Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupinang Engkau dengan Bismillah (4)


“Anita ora iso Rebo iki, Nang, jadwale padet.”

“Ohhh, nggih, mboten nopo-nopo, Bu. Lutfi kinten wonten punopo. Saksagete Anita mawon, Bu. Kemis mbok menawi?

“Mengko Ibu takoni maneh, yo. Kemis utowo Jumat ngono yo, Nang.”

“Nggih, mboten nopo-nopo, Bu. Kapan mawon Lutfi ndherek.”

Pembicaraan itu berakhir, dan Lutfi menarik nafas lega. Tidak masalah belum bisa bertemu Anita malam nanti, masih ada hari yang lain, pikirnya.

Lutfi menepuk ringan pundak Haryo dan memberi isyarat untuk bergerak. Mereka melangkah menuju lift, tanpa bicara.
Sampai di lantai tujuh beberapa rekan sejawat sudah hadir. Lutfi melihat sekeliling, ia belum menemukan wajah Alex, atasannya. Haryo mencoleknya.

“Tadi telpon Ibu tentang Anita?” Haryo memandang Lutfi, antusias.

“Yap, pertemuan hari ini batal.” Lutfi menjawab dengan matanya yang tetap awas.

Rapat hari ini tanggung jawabnya. Ia melihat Ririn telah menyalakan perangkat video call dan Ahmad menyalakan seluruh PC yang terpasang di meja rapat masing-masing. Seluruh bahan rapat tersedia dan dapat diakses di PC tersebut. Para peserta tinggal memasukkan username dan password mereka masing-masing.

“Hmmm, sudah kuperkirakan. Kata Nina proyek yang di Bogor perlu segera diperiksa, sementara Anita juga diminta untuk ikut rapat di kementerian.” Timpal Haryo.

“Kok nggak bilang?”

“Lha tadi mau bilang, dirimu nelpon bro. Lagian sama saja kan. Apa Ibumu mau bikin janji baru lagi?”

“Rencananya begitu, besok atau lusa.”

“Kebelet banget bro. Perkiraan Nina sih nggak bisa minggu ini. Bigbos sibuk.”

“Ah lo tu ya, jangan gitu. Lebih cepat lebih baik kan,” Lutfi mengangguk pada beberap peserta yang baru datang. “ntar disambung lagi, maksi bareng aja.”sambung Lutfi sembari meninggalkan Haryo dan bergerak menuju Alex yang sudah memasuki ruangan.

Sepuluh menit lagi rapat akan dimulai. Evaluasi kinerja triwulan I sebenarnya hal yang rutin, namun menjadi krusial untuk melihat angka produksi, serapan pasar dan juga nilai saham. Pastinya juga melahirkan beberapa strategi cadangan untuk mewujudkan target yang lebih baik dari tahun lalu.

Lutfi selalu menyukai rapat strategi ini. Hal yang menarik, karena mereka dipaksa berpikir out of the box untuk melahirkan strategi baru mendongkrak pencapaian. Beberapa usulan telah disampaikan Lutfi dan ia mendapat anggukan serius dari Alex.

Rapat akan segera berakhir dan Lutfi memperhatikan poin-poin yang sudah disusun Ririn di layar PC dihadapannya. Sekretaris Divisi itu sangat handal, dan Lutfi sepertinya tidak perlu mengubah notula tersebut. Melengkapi dengan beberapa tambahan teknis Lutfi memperkirakan sebelum pulang notula itu telah selesai.

Lutfi dan Haryo memilih makan siang di kantin perusahaan, di lantai duabelas. Meeting mereka berlangsung lancar dan sukses. Alex sudah membaca draft dari Ririn yang telah disempurnakan Lutfi. Terdapat komentar perbaikan. Hal itulah yang mendasarinya makan siang tetap di gedung kantor. Untuk efektifnya waktu.
Mereka memilih duduk di teras luar, karena Haryo yang tidak bisa tanpa sebatang rokok setelah makan.

“Bagaimana komentar Alex?” Haryo membuka percakapan, setelah menyelesaikan makan siangnya.

“Amanlah, nanti bisa kuperbaiki dan sempurnakan.” Sahut Lutfi, ia masih menyelesaikan makannya yang tinggal beberapa suap lagi.

Haryo sudah memulai mengisap rokokmya. Untuk angin di teras ini cukup kuat dengan arah yang berlawanan dengan Lutfi, sehingga Lutfi cukup terlindung dari asap sigaretnya Haryo.

“Kamu, apa nggak disuruh berhenti oleh dokter kandungan kalian?” Lutfi mengomentari Haryo.

Ia telah menyelesaikan makanannya. Piringnya bersih. Prinsip makanan harus habis menjadi salah satu nilai yang dipegangnya kuat. Masih banyak orang yang tidak makan, kalimat itu selalu muncul di kepalanya. Kalimat ibunya di waktu kecil, saat membiasakan mereka menghabiskan makanan yang diambil. Termasuk juga kalimat menghabiskan makananmu menunjukkan tanggung jawabmu, dan Lutfi paling takut bilang dibilang tidak bertanggung jawab. Pandangan mata ayah juga rasa malu pada dirinya sendiri.

“Disuruh, pernah kucoba, tapi malah stress. Efek juga ke kualitas spermaku jadinya. Padahal salah satu masalah kami disitu.”Ujar Haryo lugas.

Bersambung

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita