Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupinang Engkau dengan Bismillah (3)

Sore, saat bergerak menuju parkiran untuk pulang, Lutfi berpapasan dengan Haryo.

“Lama banget meetingnya, alot ya?” sapa Lutfi sembari menghentikan langkahnya.
Haryo mengikuti dan mereka bergerak mendekati dinding gedung, menghindari orang-orang yang lalu lalang di teras itu.

“Lumayan bro. Eh beneran lu mau ketemu Anita?” Haryo menepuk pundak Lutfi dengan buku agenda yang ada di tangannya. Mereka berdua tertawa ringan. Cepat juga informasinya sampai, pikir Lutfi

“Doakan ya. Tapi kudu diundur Sabtu atau Minggu, atau minggu depan. Cutiku disetujuinya mulai minggu depan.”

“Terus ada masalah gitu?”

“Enggak sih, cuman aku tadi bilang Ibu, kapan saja bisa. Takutnya Ibu dan nelpon Uminya Anita.”

“Ya sudah, telpon balik. Jangan sampai kesan pertama lu hancur sama Anita. Kata Nina, dia termasuk yang sangat memegang janji lho. Nita pernah didiamin seharian, karena lupa pada janjinya.”

Lutfi tercenung cukup lama mendengarkan informasi itu.

Memasuki mobilnya, Lutfi memutuskan untuk menelpon ibunya, sembari berharap belum ada pembicaraan yang terjadi antara orang tuanya dan orang tua Anita tentang rencana pertemuan itu. Pada panggilan kedua, telpon Lutfi diangkat.

“Ono opo, Nang?” suara Ibunya yang tenang menghilangkan gundah Lutfi.

“Mung badhe tanglet, Bu. Punapa Ibu sampun nelpon Umi Anita, perkawis rencana patemon Lutfi kaleh Anita?”

“Yo uwis, tho…. Kan kowe omong yen luwih cepet luwih becik. Dino Rebo opo Kemis, sore sakwise bali kantor, Ibu ditakoni Uminya Anita, arep ketemuan ning endhi?”

Lutfi tersenyum mendengarkan berita itu. Syukurlah waktunya setelah pulang kantor. Semoga nanti bisa disesuaikan.

“Teng restoran Bhineka, Bu. Anita mestine ngertos. Caket saking kantore. Sanjang mawon pesenane Lutfi .”sahut Lutfi.

“Ohh yo. Mengko Ibu kabari maneh. Apik-apik yo, Nang.” Ibu menutup telponnya.

Lutfi meletakkan android itu di dashboard dan menyalakan mobil. Hatinya sangat senang, karena hari ini semua berjalan lancar. Meski pelaksanaan cutinya ditunda minggu depan, rasanya tidak mengganggu rencananya untuk mendekati Anita dengan intens dan membuka percakapan serius.

Sudah terlalu lama ia menunggu waktu ini. Mungkin jadi lain jika saat SMP, sebelum mereka berpisah Lutfi berani menyatakan isi hatinya. Tapi bisa jadi juga berbeda. Ahhh… Lutfi menggoyangkan kepalanya, menyingkirkan pikiran yang tidak perlu dan terasa mengganggu.


.***.

Rabu pagi membuat Lutfi bersemangat. Kemarin sore tidak ada pekerjaan yang tertinggal dimejanya. Menjadikannya pulang terlambat memang, namun Lutfi senang, karena mengurangi bebannya di hari ini.

Mematut dirinya di depan cermin, hem biru muda bergaris halus dengan celana berwarna biru dongker yang dikenakannya hari ini menampilkan sosok yang rapi dan percaya diri. Mencermati pantulan dirinya. Lutfi berpikir ia perlu melakukan sit up. Perutnya sudah tidak serata biasanya.

Bergerak tenang, perjalanan Lutfi menuju kantor tidak mengalami hambatan luar biasa. Pagi ini ada rapat manajerial dengan kantor pusatnya, dan sesuai rencana akan berakhir saat istirahat siang. Memasuki lapangan parkir, Lutfi menangkap mobil Haryo melalui spionnya.

Keluar dari kendaraannya. Lutfi berjalan pelan menuju lobi. Ia berniat menunggu Haryo, agar bisa bareng menuju lantai tujuh, tempat meeting dilakukan. Memilih duduk di salah satu kursi di lobi yang luas, Lutfi mengeluarkan android dari saku celananya, dan tetiba gawainya itu bergetar. Nama Ibu terpampang dilayar.

“Assalamu’alaikum, Ibu,” jawabnya cepat dengan senyum di bibir, “kados pundi kabaripun?” tanya Lutfi.

“Wa’alaikumussalam, Nang, pangestumu. Nanging ono kesripahan.” Balas Ibunya.

“Kenging punapa, Bu? Ibu mboten gerah, kan? Bapak ugi saras, kan?” Lutfi mencoba menggali ingatan akan kondisi keluarga besarnya.

“Kalem ndhisik, Nang. Kabehe sehat, kok. Ibu Bapak sehat, Mas lan Mbakmu ugo sehat.”

“Lajeng?”

“Iki perkoro Anita.”

Taaap.
Tepukan di pundaknya mengalihkan konsentrasi Lutfi. Haryo berdiri dihadapannya sambil tertawa dan memintanya memutuskan pembicaraan dengan bahasa isyarat. Lutfi menjauhkan androidnya dari wajah,

“Bentar Har, ini Ibu.” Jelasnya pada Haryo.

“Anita kenging punapa, Bu?” Lutfi mencoba kembali fokus pada Ibunya. Apakah yang terjadi pada Anita? Semoga bukan sesuatu yang buruk, doa Lutfi dalam hati.


(Bersambung)

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita