Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupinang engkau dengan Bismillah (2)

Sibuk dengan pikirannya, Lutfi memasuki gedung kantor tempat ia bekerja lebih dari lima tahun. Sempat berkarir sebagai PNS, sebelum Haryo, temannya satu jurusan di perminyakan menawarkan posisi kosong yang sekarang ditempatinya. Karyawan sebelumnya mendapatkan penawaran yang lebih menarik dari perusahaan sejenis. pada industri perminyakan dimana ia bekerja, hal itu sering terjadi.

Memasukkan username dan password pada PC kerjanya, Lutfi kemudian melakukan pembicaraan di room chat dengan supervisornya, seorang ekspatriat dari Amerika, pusat perusahaannya berada.

Good Morning Sir,

Morning, How ere you ?

Fine Sir, I want ask bout a permission

Oh, What for ? is it bout family gathering ?

Yes Sir, i’ve plan to met up with my fiancee

Wow Fantastic, Good Luck For, How it goes to be ?

10 days, could I Sir ?

It’s been too long, right? Setyo unstayed, Hamdi were here in couple day

I get annual leave after Hamdi been here. Could it count on 10 day ?

Oh, okey,
Oh no, i do sorry, you’ve just 8 day, we’ve joint meeting on 22 and you must in.

Fine. Okey Thank’s Sir. I’ll make sure to HRD.

Lutfi tersenyum. Hatinya begitu riang. Sejak menerima telpon Ibunya, segalanya berlangsung mudah dan lancar. Ia memasuki room Chat dengan bagian SDM untuk mengurus administrasi cuti yang telah diizinkan atasannya. Delapan hari membersamai Anita rasanya lebih dari cukup, untuk awal perkenalan mereka lagi setelah bertahun silam. Semoga ini pertanda baik, batinnya.

Menjelang istirahat siang, lutfi mengedarkan pandangannya mencari Haryo. Tidak dia temukan temannya itu. Lutfi kembali ke PCnya, saat memasuki room chat untuk menyapa Haryo, Lutfi baru ingat, Haryo pasti sedang meeting dengan vendor perusahaan.

Melihat jam di sudut layar PCnya, Lutfi berpikir sudah bisa menelpon Nina. Ia ingin membagikan kabar gembira ini, sekaligus meminta satu dua informasi. Pada dering keempat, panggilannya diangkat.

“Assalamu’alaikum Nin, apa kabar?” sapanya pelan.

“Wa’alaikumsalam. Tumben Mas, biasanya lewat mas Haryo.” Suara Nina menyentuh gendang telinganya.

“Haryo meeting sama vendor, belum kembali. Saya mengganggu nggak?”

“Enggak lah, sudah waktunya istirahat. Tumben, butuh informasi tentang my bos ya.” Suara Nina renyah diakhiri tawa ringa.

“Waah ketebak nih. Anita sibuk proyek apa Nin?” tanya Lutfi tanpa sungkan.

“Ada beberapa, yang on progress di Bogor, mungkin minggu depan kudu inspeksi tuh. Ah ya ampuuun…”

“Kenapa Nin?”

“Duuuh, aku minggu depan jadwal konsul program sama Mas Haryo. Ah lupakan. Ada apa Mas Lutfi nanya-nanya?”

Lutfi menggali memorinya, konsul program? Ah ya. Haryo dan Nina sedang dalam proses program untuk bisa memiliki keturunan.

“Oh, semoga sukses programnya. Aku punya kabar gembira nih. Anita siap dipertemukan dengan calon suami pilihan orang tuanya.” Lutfi tidak bisa melepaskan senyum saat mengatakannya.

“Kok gembira, emang calonnya Mas Lutfi?”

“Ya iyalah, siapa lagi.”

“Kok bisa? Emang kenal sama orang tuanya bosku?”

“Kenal dong, kan Ayahku dan Abinya Anita satu korps. Sama-sama Akmil juga, tapi beda angkatan. Haryo nggak cerita ya?”

“Enggak pernah. Tapi bagus tuh Mas, ajak nikah aja langsung, biar nggak terlalu gila kerja.”

Gila kerja? Ini informasi yang Lutfi belum tahu. Benarkah Anita gila kerja? Bagaimana kalau nanti mereka menikah? Bersediakah Anita berhenti kerja kalau diminta? Lutfi menggoyangkan kepalanya. Menghalau pikiran-pikiran baru yang bermunculan cepat.

“Hmmm, makanya mau nanya. Kira-kira diajak ketemuan minggu ini bisa nggak?”

“Justru minggu ini aja, jadwalnya minggu depan mulai inspeksi, bisa padat juga.” Nina menjawab cepat.

“Ok Nin, makasih ya. Doakan yes!” Lutfi tersenyum. Setelah mendengarkan salam Nina, percakapanpun diakhirnya.

Lutfi sedang menunggu nada sambung ke nomor telpon Ibunya, saat panggilan dari atasan diterimanya di chat room. Mematikan panggilan itu Lutfi bergerak menuju ruangan Alex, atasannya sejak dua tahun lalu. Semoga tidak berhubungan dengan rencana cutinya, pikir Lutfi penuh harap.

erlangsung mudah dan lancar. Ia memasuki room Chat dengan bagian SDM untuk mengurus administrasi cuti yang telah diizinkan atasannya. Delapan hari membersamai Anita rasanya lebih dari cukup, untuk awal perkenalan mereka lagi setelah bertahun silam. Semoga ini pertanda baik, batinnya.
Menjelang istirahat siang, lutfi mengedarkan pandangannya mencari Haryo. Tidak dia temukan temannya itu. Lutfi kembali ke PCnya, saat memasuki room chat untuk menyapa Haryo, Lutfi baru ingat, Haryo pasti sedang meeting dengan vendor perusahaan.
Melihat jam di sudut layar PCnya, Lutfi berpikir sudah bisa menelpon Nina. Ia ingin membagikan kabar gembira ini, sekaligus meminta satu dua informasi. Pada dering keempat, panggilannya diangkat.
“Assalamu’alaikum Nin, apa kabar?” sapanya pelan.
“Wa’alaikumsalam. Tumben Mas, biasanya lewat mas Haryo.” Suara Nina menyentuh gendang telinganya.
“Haryo meeting sama vendor, belum kembali. Saya mengganggu nggak?”
“Enggak lah, sudah waktunya istirahat. Tumben, butuh informasi tentang my bos ya.” Suara Nina renyah diakhiri tawa ringa.
“Waah ketebak nih. Anita sibuk proyek apa Nin?” tanya Lutfi tanpa sungkan.
“Ada beberapa, yang on progress di Bogor, mungkin minggu depan kudu inspeksi tuh. Ah ya ampuuun…”
“Kenapa Nin?”
“Duuuh, aku minggu depan jadwal konsul program sama Mas Haryo. Ah lupakan. Ada apa Mas Lutfi nanya-nanya?”
Lutfi menggali memorinya, konsul program? Ah ya. Haryo dan Nina sedang dalam proses program untuk bisa memiliki keturunan.
“Oh, semoga sukses programnya. Aku punya kabar gembira nih. Anita siap dipertemukan dengan calon suami pilihan orang tuanya.” Lutfi tidak bisa melepaskan senyum saat mengatakannya.
“Kok gembira, emang calonnya Mas Lutfi?”
“Ya iyalah, siapa lagi.”
“Kok bisa? Emang kenal sama orang tuanya bosku?”
“Kenal dong, kan Ayahku dan Abinya Anita satu korps. Sama-sama Akmil juga, tapi beda angkatan. Haryo nggak cerita ya?”
“Enggak pernah. Tapi bagus tuh Mas, ajak nikah aja langsung, biar nggak terlalu gila kerja.”
Gila kerja? Ini informasi yang Lutfi belum tahu. Benarkah Anita gila kerja? Bagaimana kalau nanti mereka menikah? Bersediakah Anita berhenti kerja kalau diminta? Lutfi menggoyangkan kepalanya. Menghalau pikiran-pikiran baru yang bermunculan cepat.
“Hmmm, makanya mau nanya. Kira-kira diajak ketemuan minggu ini bisa nggak?”
“Justru minggu ini aja, jadwalnya minggu depan mulai inspeksi, bisa padat juga.” Nina menajwab cepat.
“Ok Nin, makasih ya. Doakan yes!” Lutfi tersenyum. Setelah mendengarkan salam Nina, percakapanpun diakhirnya.
Lutfi sedang menunggu nada sambung ke nomor telpon Ibunya, saat panggilan dari atasan diterimanya di chat room. Mematikan panggilan itu Lutfi bergerak menuju ruangan Alex, atasannya sejak dua tahun lalu. Semoga tidak berhubungan dengan rencana cutinya, pikir Lutfi penuh harap.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita