Sehidup Semati (4)

Aku pandangi foto ayah dan ibu. Lama. Berusaha memahami cinta mereka. Ibu yang selalu kuat bertahan, dan ayah yang terus menggoreskan luka. Namun mereka berdua ditakdirkan bersama hingga akhir hayat.

Banyak cerita yang kudengar dari encang-encing (saudara kandung ayah-red) tentang ayah dan ibu. Sepeninggal ayah dan ibu, aku banyak tahu tentang mereka. Bagaimana mereka bertemu dan menyatu dalam ikatan pernikahan.

Ibu adalah sosok wanita tomboy. Rambutnya pendek. Ikat kepala selalu dikenakannya. Konon ibu lah yang selalu mendatangi ayah dengan mengendarai vespa kesayangannya.

“Assalamu’alaikum. Bu, Nyomannya ada?”

Begitulah ibu bila tiba di rumah ayah, bertanya pada Nyai. Ayah akan muncul segera, sebelum Nyai  menjawab pertanyaan ibu. Oya, Nyai adalah sebutanku pada nenek, wanita yang melahirkan ayah.

Setiap akhir pekan ayah dan ibu akan pergi bareng menyusuri kota menikmati suasana malam. Hanya sekedar mengobrol dan berburu jajanan.

Semakin lama, banyak omongan negatif yang terdengar, membicarakan kedekatan dua insan yang sedang memadu kasih.

“Demi Allah, Mak. Aku dengannya tak melakukan hal di luar batas. Aku hanya jalan untuk sekedar ngobrol. Tak lebih.” Itu yang ayah ucapkan saat diingatkan.

Hingga suatu hari, orangtua ibu mendatangi orangtua ayah, dengan maksud membicarakan masa depan anak-anak mereka.

WCRumedia/yuyunkho