Sehidup Semati (3)

Sehidup Semati (3)

Seminggu sebelum ayah meninggal, aku belum bisa menghilangkan kebencianku padanya. Padahal, semenjak ibu meninggal ayah telah berusaha untuk berubah, lebih protek pada anak-anaknya.

Saking proteknya, pernah ayah marah gara-gara kami pulang malam. Ayah langsung menghardik kami dengan logat betawinya.

“Anak kurang ajar lu berdua, belum aja lu gue tinggal mati kaya ibu lu.”

Aku dan kak Putri saat itu sangat takut. Takut kalau ayah memukuli kami karena pulang lewat dari waktu magrib. Padahal memang sengaja kami pulang malam karna malas di rumah bareng ayah.

Ayah lebih banyak diam sepeninggal ibu. Sering memasak untuk aku dan kak Putri, bertanya apa menu yang kami mau dan bertanya bagaimana rasa masakan buatannya. Pernah juga mengajak solat berjama’ah, hal yang tidak pernah ayah lakukan sebelumnya.

Ayah juga memperhatikan kebutuhan aku dan kak Putri. Membelikan kami barang-barang yang kami butuhkan dan kami mau. Tapi tetap saja komunikasi kami dengannya terasa canggung dan kaku.

“Ah, mana mungkin sih dia berubah, dia akan tetap sama menjadi orang yang paling galak dan selalu membuat anak-anaknya takut,” pikirku selalu berburuk sangka.

Malam sebelum kepergiannya, ayah minta dibelikan rokok dan dimasakkan mie instan. Aku tak menyangka itu adalah permintaan terakhir ayah.

WCRumedia/yuyunkho