Sehidup Semati (2)

Sehidup Semati (2)

Sepekan sudah kepergian almarhum ayah. Aku masih saja menangisi keadaan. Rumahku kini sepi dari sanak saudara. Mereka telah kembali pada aktifitasnya masing-masing.

Tak ada firasat apapun. Ayah begitu banyak berubah dua bulan terakhir ini. Sikap keras dan arogan ayah tak lagi kudapati. Perhatiannya menjadi sangat berlebihan, menurutku.

Rasa benci yang tertanam dalam lubuk hatiku sejak lama mulai terkikis. Ya, aku benci ayah. Selama hidup ibu, ayah tak henti menyakiti dan membuat ibu menangis. Tapi ibu adalah perempuan hebat berhati baja. Ia tetap mencintai ayah dengan segala kekurangannya, bahkan hingga akhir hayatnya.

Oh, ibu. Kini aku mulai merindukanmu. Tahukah kau, ibu, aku selalu merasa kau ada di sampingku. Memberikan kekuatan saat aku terpuruk, memberikan rasa nyaman ketika gundah melanda. Sosokmu sungguh menjadi panutanku. Semangatmu yang pantang menyerah menjadi inspirasiku.

Ingatanku kembali menghadirkan bayangan masa lalu. Pertengkaran seringkali menghiasi hari-hari ayah dan ibu. Aku muak. Aku benci. Ibu yang selalu tersakiti dan ayah yang kejam tanpa henti. Semua tersimpan baik dalam memoriku. Sekeras apapun aku berusaha melupakannya justru semakin kuat aku mengingatnya.

“Della, ayo sarapan. Kakak masak telur ceplok dan sayur bayam.” Perkataan kak Putri mengejutkanku dari lamunan.

“Aku masih merasa seperti mimpi, kak. Sikap ayah sudah mulai berubah, tapi ternyata Allah lebih cepat memanggilnya.”

“Iya, Del. Rasanya baru kemarin kita mengenal ayah. Semenjak ibu meninggal, ayah seolah muncul menjadi jiwa yang baru. Membangunkan kita dan menyiapkan sarapan untuk kita.” Pandangan kak Putri menerawang.

“Tau ngga, Del. Pernah waktu kakak pulang kerja, ayah bilang kalau ayah sudah masak nasi. Tapi ternyata ayah lupa memencet tombol cook. Terlihat sekali raut wajahnya yang kecewa. Itu menjadi kenangan indah sekarang,” kak Putri melanjutkan ceritanya.

WCRumedia/yuyunkho