Sehidup Semati (1)

Sehidup Semati (1)

Aku termenung. Gundukan tanah merah di depanku masih lekat ku pandangi. Lengkap sudah kesedihanku. Kini aku gadis yatim piatu. Hanya kakak perempuan satu-satunya yang kumiliki sekarang.

“Ayah, begitu cepat engkau pergi. Kau tinggalkan aku hanya berdua dengan kakak. Tak ada lagi lelaki yang akan menjadi pelindungku. Ayah, begitu rindunya engkau pada Ibu, hingga ingin segera menjemputnya. Aku masih ingin bersama ayah.”

Aku terpukul. Air mataku kembali mengalir, tak bisa aku bendung. Keluarga dan para tetangga yang mengantar kepergian jenazah ayah mulai beranjak pergi.

“Ayo, Del, kita pulang. Biarkan ayah tenang di alam sana. Kita akan selalu mendo’akan ayah dan ibu. Itu yang kini mereka butuhkan.” Kak Putri merengkuh bahuku.

Aku menuruti saja ajakan kak Putri. Usiaku dan kak Putri hanya terpaut 2 tahun. Kini aku harus menjalani hari-hari hanya berdua. Tanpa ayah dan ibu di usiaku yang menjelang dewasa, 17 tahun.

Di rumah, banyak keluarga yang berkumpul menemaniku dan kakak. Saudara kandung ayah hadir membantu. Ayah anak ke tujuh dari 8 bersaudara. Alhamdulillah, aku bersyukur keluarga besar ayah sangat peduli, sehingga aku sedikit terhibur.

Kak Putri kulihat begitu tabah menerima kenyataan ini. Padahal ia yang lebih dekat dengan ayah. Di hari-hari terakhir pun kakak lebih sering mengobrol dengan ayah.

“Ya Allah, aku ikuti rencanaMu. Berikanlah aku kekuatan tuk menjalani hari-hariku nanti. Bimbing aku, ya Allah,” kupanjatkan do’a lirih.

WCRumedia/yuyunkho