SESAL KEMUDIAN TIADA GUNA

Kurdi adalah serang pemuda idola di desanya. Ayahnya termasuk orang yang berkecukupan di desa. Kurdi pun seorang yang sangat royal terhadap teman-temannya juga warga desa.

Siapa yang tak kenal Kurdi. Banyak pemuda dengan sukarela menjadi temannya. Mereka bagai laron yang mengelilingi cahaya.

Sayangnya memiliki orang tua yang cukup berada membuat Kurdi malas. Ia enggan melanjutkan sekolah ataupun mencari kerja. Setiap hari hidupnya hanya diisi dengan nongkrong-nongkrong sesama pemuda desa lainnya.

Kurdi berpikir dengan harta orang tuanya ia bisa menyenangkan teman-temannya. Setiap saat ia bisa mentraktir mereka. Jika uang yang dipegangnya habis, Kurdi langsung mengambil dari dompet ibunya tanpa permisi.

Ibu hanyasering heran, kenapa uangnya terlalu cepat habis. Ibu tak menyangka jika itu semua ulah anak kesayangannya. Hanya Hani adik Kurdi yang sering memergoki kelakuan abangnya.

Kurdisosok pemuda yang rela melakukan apa saja demi temannya. Pernah suatu waktu, ia memereteli sepeda baru Hani hanya untuk memperbaiki sepeda temannya. Hani hanya menangis, sepeda itu ia beli dari uang tabungannya. Sementara Kurdi merasa itu adalah uang orang tuanya, jadi ia bebas sesuka hati merusak sepeda itu.

Seiring berjalannya waktu, ayah mendadak sakit dan tak lama berpulang ke pangkuan Ilahi. Sayangnya hal tersebut tak jua membuat Kurdi sadar. Alih-alih mencari kerja demi menggantikan sosok ayah, ia tetap melanjutkan gaya hidupnya yang boros itu.

Untungsaja Hani termasuk anak yang mandiri. Hani kebetulan sudah tinggal menyusun skripsi. Hani mengisi waktunya dengan bekerja sambilan. Ibu tak perlu memikirkan lagi kebutuhan harian Hani.

Semakinhari tahun berganti, harta peninggalan ayah pun semakin menipis. Bersyukur Hani sudah lulus dan langsung mendapatkan pekerjaan. Sementara Kurdi, masih belum berubah.

Ibu mulaimembatasi, keuangan untuk Kurdi. Kurdi geram, ia tak bisa lagi berfoya-foya bersama temannya. Satu persatu teman menghilang tak bersisa.

Sekarang Kurdi hanya mampu menyesali nasib. Uang tak ada, teman menghilang. Hidup dalam kesusahan.

Bekerja hanya serabutan saja namun harus menghidupi keluarga. Sudah ada istri dan anak-anak yang menjadi tanggungannya. Sering kali berkunjung ke rumah ibu namun bukan untuk berbakti melainkan meminta uang demi kelangsungan hidup.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie