Sayang sungguh sayang

Pagi ini Sarah ikut meramaikan kerumunan tukang sayur langganan. Walau berdaster tapi Sarah masih tetap rapi menutup auratnya. Daster panjang berlengan panjang lengkap dengan kerudung instan. Tak ketinggalan masker karena pandemi belum usai. Masker tetap dipakai walaupun hanya keluar rumah beberapa meter saja jaraknya.

Tampak Bang Jangkung sudah ramai dikelilingi ibu-ibu. Sarah pun segera bergabung. Tak lama tampak seorang ibu muda cantik menyusul setelah Sarah. Rianti, tetangga baru di kampung mereka.

“Sarah pangling Kak, Kakak gak pakai hijab,” jawab Sarah perlahan, takut menyinggung kak Rianti.

“Ah, cuma dekat sini aja. Gak usah rapi-rapi Sar,” jawab Kak Rianti santai.

“Rezeki saya Bu Sarah,” sambar bang Jangkung sambil cengengesan.

“Rezeki gimana Bang Jangkung?” tanya oma Surti.

“Ya, gak semua orang bisa lihat auratnya Bu Rianti, kan? Saya yang cuma tukang sayur bisa lihat. Apa itu namanya kalau bukan rezeki tukang sayur soleh Oma?” sahut bang Jangkung sambil memperlihatkan deretan giginya.

“Huuuuu!” kompak ibu-ibu semua menyoraki bang Jangkung.

Bang Jangkung disoraki ibu-ibu malah semakin lebar tawanya. Sementara Kak Rianti hanya tersenyum saja dan melanjutkan belanjanya.

Ibu-ibu sayang, yuk mulai sekarang stop ‘sedekah’ yang gak perlu macam ini ya? Bukan hanya ke tukang sayur saja tapi ke semua orang yang memang tidak berhak melihat aurat kita.

Semangat!

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie