SAWANG-SINAWANG

Bagian 04

“Tahu dari mana kamu Ries?” Maya kembali bertanya dengan segudang rasa penasarannya.

“Kemarin Kak, waktu Aries jaga warung Ibu, mereka beli sambil berhosip ria”
“Gosip Ries, GOSIP” Maya memperjelas sambil memonyongkan bibirnya.

Aries tertawa terbahak melihat muka jelek Kakaknya.
“Kak, jangan gitu tambah jelek tahu”
“Minta di jitak beneran ne anak, udah deh Ries lanjut aja gosipnya”.

Aries membetulkan letak duduknya, cari posisi nyaman untuk bergosip-ria dengan Kakaknya.
“Mereka itu iri sama Kakak, bisa kerja di perusahaan otomotif ternama, bisa cari uang sendiri, bisa beli ini-itu yang Kakak mau, tanpa harus meminta uang sama orang tua.

Bahkan Kakak bisa beli motor sendiri, tanpa nyusahin Ibu kan? Meskipun nyicil ya Kak, tapi sudah Alhamdulillah”.

Panjang lebar Aries bergosip-ria dengan Maya, membeberkan cerita yang ia dapat dari pelanggan warung kelontong Ibunya.

Maya hanya mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum simpul. Entah mengiyakan atau hanya sekedar menertawakan rasa iri yang tadi hinggap di hatinya.

“Intinya Kak, Urip kuwi sawang-sinawang. Orang lain melihat Kakak hidup enak, Kakak melihat orang lain lebih enak. Padahal belum tentu Kak”. Sok bijak sekali Aries ini.

Namun ada benarnya.

Adiknya ini memang lebih kalem, pendiam, pemalu dan tidak mudah bergaul, anak rumahan lah istilahnya. Hari-harinya hanya disibukkan dengan belajar dan belajar.

“Betul apa kata adikmu itu May, seharusnya kamu bersyukur. Atau kamu mau masuk kuliah lagi?”

“Ibu bikin kaget aja, sudah pulang Bu?” Maya menangkupkan kedua tangan di dada, terkejut ia akan kedatangan Ibu nya.
“Iya mau sholat asyar dulu, terus makan, berangkat lagi ke warung, atau mau gantian kamu yang jaga?” Ibu menawarkan.

“Biar aku saja Bu sama Kak Maya, Ibu istirahat saja” Aries menawarkan diri tanpa minta persetujuanku terlebih dahulu.

Aku hanya bisa terpana akan kebaikan Aries, yang sebenarnya ada maunya. “Awas kamu ya Ries, liat aja nanti”

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu