SAWANG-SINAWANG

Bagian 03

Maya kembali tenggelam dalam pikirannya, mengenang masa-masa kuliahnya dulu. Enak ya jadi Tania masih bisa kuliah, gak usah melulu di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan di kantor.

Awalnya Maya bekerja part time, pagi ia berangkat ke kampus, sepulang ngampus ia bekerja.

Entah karena sudah tahu betapa susahnya cari uang, kemudian bangga pegang uang banyak hasil keringat sendiri atau karena kebutuhan hidup yang harus ia tanggung, sebab masih ada adiknya yang duduk di bangku STM.

Maya mengalah demi kebaikan, sedikit menyesal namun hanya sebatas menghela nafas saja, selebihnya ia ikhlaskan. Bila kembali pada pilihan awal, ia tetap akan memilih bekerja.

“Enak jadi Tania ya Ries, bisa kuliah, main sama temen-temennya, kayak anak sekolah SMA aja, gak usah mikirin besok harus gimana kerjaan, udah kelar belum”

“Ceritanya Kakak curhat ne?” Aries adik Maya balik bertanya.
“Gak, Kakak lagi ceramah, jitak mau kamu?”
“Cieeee gitu aja ngambek, cepet tua lho Kak”

Maya kembali melihat ke jalanan, terlihat teman sebayanya bersama calon suaminya. Maya melambaikan tangan, menyapa Kinan dari kejauhan.

“Ries, liat tu si Kinan, enak ya libur gini jalan-jalan sama calon suaminya. Naik mobil, gak kerja, tinggal di rumah aja”.
Maya mendesah perlahan, namun tetap terdengar di telinga Aries, adiknya.

“Kalo kakak mau, kan bisa tinggal cari pacar. Makanya kak jangan gila kerja, rajin mandi, jangan dekil kek gitu. Suruh mandi aja susah, mau punya pacar? yang ada itu cowoknya kabur duluan Kak” sahut Aries meledek.

“Anak kecil sok tahu lho, udah sana kamu masuk aja, kerjain PR kek, di ajak ngobrol yang ada nyela mulu” Maya mulai nge-gas

“Yeee di kasih tahu bukannya terima kasih Kakak ini”.
“Kak, aku mau cerita. Kakak itu iri sama Mbak Kinan, sama Tania, tahu gak Kak, mereka juga iri sama Kakak”

Maya menggeleng lemah.

“Tahu dari mana kamu Ries?” Maya kembali bertanya dengan segudang rasa penasarannya.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu