SAWANG-SINAWANG

Bagian 02

“Mandi sana lho May, kok malah ngelamun, udah bangunnya siang, gak bantuin Ibu masak, suruh mandi aja kok susah”. Ibu masih setia dengan omelan nya, sebal melihat anak gadisnya yang tak menurut.

“Peluk dulu Bu”
“Mandi dulu, lalu makan, baru Ibu peluk”.
Maya tak mengindahkan perkataan Ibu nya, nggemblok begitu saja ke Ibu, memeluk erat.

Dalam hati Maya berbisik “Terima kasih Bu, sudah kuat menaklukkan hidup meski tanpa suami, terima kasih Bu sudah menjadi Ibu terhebat untukku”.
Ibu hanya mengusap lembut punggung anak gadisnya. Saling menguatkan, saling menjaga dan saling melindungi, mungkin itu arti usapan Ibu.

Maya beranjak ke dapur, lapar. Bukannya mandi seperti yang di perintahkan Ibu. Ah.. dasar Maya.
Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadisnya. Sungguh berbeda dengan adik lelakinya. Satu pabrik saja bisa begitu kentara perbedaannya.

“Ibu ke warung dulu ya, jaga rumah, gak usah main kamu May, manfaatkan hari liburmu untuk istirahat” Ibu berpesan dengan nada penekanan.
“Siap Bos” sikap hormat lengkap dengan tangan di samping pelipis. Ibu hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya.

Segar setelah mandi dan menyelesaikan tugasnya, Maya kembali duduk di teras depan, sembari menatap tanaman Ibu yang terawat dan berjejer rapi. Ibu memang seorang wanita yang telaten, disiplin, sedikit keras dalam mendidik anak-anaknya, pekerja keras, dan super duper perhatian dalam hal kebersihan.

“Libur Kak?” sapa anak tetangga sebelah
“Iya ini, harpitnas. Hari kejepit nasional, hehe. Baru pulang kuliah Tan?”
“Iya ne Kak, duluan ya Kak” jawab Tania sambil berlalu pulang.

Maya kembali tenggelam dalam pikirannya, mengenang masa-masa kuliahnya dulu. Enak ya jadi Tania masih bisa kuliah, gak usah melulu di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan di kantor.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu