Satu Hari Sebelum Kau Pergi

Satu Hari Sebelum Kau Pergi

Hari ini sahur ke dua puluh sembilan. Aku terjaga dan menghangatkan sayur. Membuat teh, lalu menyajikannya di meja makan. Tiba-tiba tubuh seakan membeku. Terpaku dan diam dalam linangan penyesalan.

Suara jam dinding yang berdetik. Kipas angin mengembus dingin. Tadarus di masjid sekitar saling bersahutan. Semua bercampur di dalam lubang telingaku. Menggema getarannya hingga menerobos otak.

Ah, Ramadan. Harus satu tahun lagi menunggu kedatanganmu. Pada tahun ini, lagi-lagi aku belum bisa memberikan yang terbaik. Aku gagal. Sama gagalnya dengan lomba cerpen nasional yang kuikuti.

Ibarat kau seorang tamu. Aku tidak menyajikan makanan lezat untuk kau makan. Tak juga menyediakan kamar nyaman dan hangat untukmu beristirahat. Ketika dirimu di sini, aku menyambut dengan acuh tak acuh.

“Silakan ambil air sendiri!” Aku menyuruh ketika kau bilang haus.

“Kau ingin mendengarku mengaji? Aku sibuk, hanya satu ‘ain saja yang mampu ku beri tiap hari,” ujarku sombong.

“Salat tarawih? Ngantuk!” Aku pergi ke pembaringan dan menutup mata. Sementara kau menangis di luar kamar.

Kau pun menjadi sedih, ketika aku begitu gembira menyambut kedatangan syawal. Aroma keceriaannya mengalahkanmu. Padahal kau bilang akan pergi.

Esok kau benar-benar akan berpamitan. Aku hanya mematung dalam penyesalan. Mengapa waktu begitu cepat berlari? Bisakah masa berputar lagi ke belakang?

Ramadan akan pergi. Ia menitipkan pesan padaku, “Jika hidupmu terasa sibuk, maka Tuhan Maha sibuk. Namun, hanya sedikit waktu kau mengingat-Nya. Padahal Dia mengingatmu selalu. Kaulah yang membutuhkan-Nya, seharusnya dirimu yang datang mengambil kelapangan dan rahmat yang telah Ia siapkan.”

Satu tahun lagi, barulah aku bisa kembali bersua. Betapa meruginya diriku, jikalau ini ternyata perjumpaan yang terakhir kalinya.

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum