SARJANA ASI

Dulu ibu bekerja yang baru melahirkan selalu mempunyai dilema antara bekerja dan menyusui bayinya setelah masa cuti melahirkan habis. Kebutuhan untuk tetap bekerja dan ingin menyusui bayi secara eksklusif, merupakan hal yang tak mudah untuk diwujudkan. Stres malah semakin membuat produksi ASI terhenti.

Sarah termasuk anak yang dulunya tidak mendapatkan ASI eksklusif selama 4 bulan. Hal ini membuatnya bertekad untuk dapat mengASIhi bayinya secara eksklusif kelak. Ternyata seiring perkembangan ilmu pengetahuan di dunia kesehatan, ASI eksklusif berubah menjadi 6 bulan lamanya. Tekad Sarah sudah bulat, apapun yang terjadi harus bisa mengASIhi. Jika memang diperlukan ia tak ragu untuk berhenti bekerja.

Di tahun keenam pernikahannya Sarah melahirkan seorang putri mungil nan cantik. Sarah masih mengingat akan tekadnya dulu. Beruntungnya Sarah cuti melahirkan dua hari setelah persalinan sehingga tiga bulan penuh Sarah bisa mengASIhi bayinya.

Mendekati masa cuti habis, Sarah tak sengaja membaca artikel di sebuah majalah yang membahas tentang ASI perah. Sarah senang luar biasa. Ternyata sekarang sudah banyak ibu bekerja yang tetap bisa memberikan ASI untuk bayinya walau dia bekerja.

Sarah segera berburu semua perlengkapan untuk mendukung pemberian ASIP. Mulai dari pompa, kantong penyimpanan, botol susu, tas termal, hingga ice pack. Semua memiliki beragam model dan harga yang dapat disesuaikan dengan dana yang kita punya.

Hari kembali bekerja pun tiba. Sarah sudah punya beberapa kantong stok ASIP di lemari pendingin. Dia juga sudah mengajari pengasuh bayinya cara memberikan ASIP. Di kantor, Sarah kembali memompa ASInya saat jam istirahat. Setelah itu, disimpan di lemari pendingin. Saat pulang kerja, ASIP dimasukkan ke tas termal agar tetap beku selama perjalanan pulang.

Begitulah hari-hari yang dilalui Sarah. Dia dapat tuntas mengASIhi bayinya hingga 6 bulan. Sarah pun tetap melanjutkan mengASIhi hingga putrinya berusia dua tahun.