Sang Pejuang Sejatiku

Hatiku mengharu biru, tatkala melihatmu telah menua seiring waktu berlalu, engkau lah pahlawan sejati dalam keluargaku yang selalu menggerakkan tulangmu tak kenal waktu.

Badanmu telah ringkih, kulitmu keriput bahkan rambutmu pun tak lagi berwarna seperti dulu, semuanya telah memutih. Tapi engkau tak mau berhenti bekerja dan berpangku tangan begitu saja guna memenuhi ambisimu.

Kulihat tanaman bunga dihalaman mekar berkat tangan dan kasih sayangmu, seluruh sela yg ada kau isi dengan tanaman bahkan tak satupun luput dari pandangan matamu.

Engkaulah pejuang sejatiku, yang selalu kupanggil dengan nama Ibu tetapi sebenarnya kau adalah nenekku. karena begitulah kami semuanya memanggilmu dengan sebutan Ibu, aku juga bingung mengapa begitu, karena ini semua adalah kebiasaan sejak zaman dulu.

Ibu.. kau adalah orang tua dari Mamaku, tetapi tenaga dan semangatmu jauh lebih kuat dibandingkan dengan kami yang masih muda dan lugu. Bahkan Mamaku pun tak sekuat dirimu.

Ibu…kami juga sering memanggilmu dengan nenek super karena kau bisa mewujudkan apapun yang kau mau tanpa bantuan tenaga anak dan cucumu, paling mereka hanya mengirimimu uang untuk mencukupi kebutuhanmu.

Kami memcintai mu Ibu..alias nenek superku, kau banting tulang menggarap sawah dan ladang yang terbentang luas, hingga kau bisa mewujudkan cita-cita anak dan cucumu dengan peluh dan keringat yang bercucuran dari tubuhmu, tapi kau tak pernah mengeluh sedikitpun. Aku bangga padamu…sang pejuang sejatiku