salah siapa

Ketika terjadi suatu perpisahan antara suami istri, orang lantas ribut mencari sumber kesalahan. Sebagian besar masyarakat kita, seringnya menilai selalu kesalahan istri. Baik itu yang katanya istri tak pandai berdandan, tak pandai memasak, tak bisa mengurus rumah, dan lain sebagainya.

Pun ketika diketahui, ternyata suami sudah memiliki wanita idaman lain. Kesalahan tetap jatuh kepada sang istri, kembali pada alasan-alasan tersebut di atas sehingga suami berpaling kepada wanita yang bisa memenuhi itu semua.

Sedikit sekali yang menilai bahwa perpisahan terjadi karena kesaalahan suami. Tidak dibahas apakah suami merupakan orang yang mampu bersabar mengajari dan membimbing istrinya, sehingga menjadi sosok idamannya. Juga tidak dibahas perilaku suami yang ringan tangan. Apalagi sosok suami yang malas mencari nafkah.

Perseteruan terus terjadi jika setiap diri merasa paling benar. Selalu menganggap salah pasangan. Sudah tidak ada lagi kebaikan yang terlihat, walau sekecil apapun. Padahal itu adalah hal yang tak mungkin.

Alangkah baiknya, setiap kekurangan pasangan menjadi penyempurna kelebihan kita. Demikian pula berlaku sebaliknya. Allah memang meenghalalkan perceraian namun sessungguhnya itu adalah perbuatan yang dibenci NYA. Namun jika memang masalah yang dirasa sudah terlalu berat. Tak mampu lagi diri menanggungnya. Cobalah mencari pendapat dari pihak lain yang dirasa mampu menilai secara adil dan bijaksana. Sehingga didapatkan jalan keluar yang menyenangkan bagi semua pihak. Percayalah, sesungguhnya setiap manusia berhak untuk hidup bahagia. So, jangan lupa bahagia ya!

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie