SAKIT FISIK VS SAKIT PSIKIS

Bagi seseorang yang pernah sakit fisik baik ringan ataupun berat, pasti bisa merasakan sakit itu tidak enak dirasa. Beberapa mungkin ada yang memutuskan segera berobat atau mungkin ada juga yang memilih bersabar saja tunggu sampai sembuh sendiri. Setiap orang berbeda-beda dalam menyikapinya.

Orang yang sakit psikis dan tidak terlihat bentuknya, seringkali tidak bisa terdeteksi sejak dini atau tidak bisa dideteksi secara kasat mata. Banyak diantaranya terlambat mengetahui atau bahkan tidak pernah tahu karena tidak mau mencari tahu. Meskipun merasakan kejanggalan dan menimbulkan tanya dari orang sekitar “kamu ini kenapa” atau “mereka itu kenapa” atau juga “aku ini kenapa” namun tidak serta merta tergerak spontanitas untuk mencari tahu sebagaimana halnya penyakit fisik. Paling juga dianggap sedang badmood jadi mudah terpancing emosi atau sudah sifatnya pemarah jadi harap dimaklumi atau juga mungkin dianggap kurang iman dan kurang ibadah (tidak pernah sholat, kurang sedekah, malas berdoa dan lain-lain).

Menurut pengamatan saya – bukan berdasarkan satu teori tertentu ya -, terhadap sakit fisik, terkadang orang hanya melihat tapi tidak ikut merasakannya, atau lebih tepatnya tidak terpengaruh. Contoh sakit gigi, memang hanya orang yang sakit yang merasakannya, tapi orang lain dapat melihat bagaimana bengkak di pipinya atau ada bolong di giginya jika diperlihatkan. Sebaliknya dengan sakit psikis, terkadang orang tidak bisa melihat bentuknya tapi bisa terpengaruh jika reaksi orang yang sakit psikis ini bertindak hal yang aneh-aneh. Contoh orang yang memiliki luka batin biasanya cenderung melukai orang lain. Orang yang membersamai orang yang mengidap luka batin biasanya terkena imbas dari cara menyikapi hidupnya yang tidak sesuai dengan umumnya serta akan merasakan ketidaknyamanan.

Hal ini berbeda dengan respon terhadap penyakit fisik, pusing sedikit minum obat ingin segera sembuh, sakit gigi cepat ke dokter ingin diperhatikan apa yang perlu ditangani agar sakitnya segera pulih. Ada juga yang muntah muntah diare segera dibawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan. Begitulah, beda sekali dengan perlakuan terhadap penyakit psikis.

Beberapa ahli ada yang menyebutkan bahwa penyakit fisik bisa dialami karena terpengaruh adanya gangguan psikologis atau ada masalah kejiwaan yang sedang dialami. Mereka meyakini bahwa tubuh yang kuat berasal dari jiwa yang sehat. Jika psikis tenang maka tubuh akan terbawa sehat. Mungkin ada benarnya dan ada yang memang mengalami bahwa teori ini benar. Namanya pendapat, baik ilmiah atau tidak, itu adalah suatu sudut pandang yang patut direnungkan. Terlepas dari benar atau tidak, setiap orang bisa memiliki argumen menguatkan atau melemahkan.

Saya sendiri termasuk yang meyakini bahwa jika sedang ada masalah memang cenderung merasa kurang sehat, misalnya berawal dari sulit tidur, beraktivitas fisik berlebihan karena ingin mengalihkan fokus sedih agar tidak larut, atau makan tidak teratur jadilah merasakan letih lesu tidak bersemangat lama lama menjadi sakit ingin berbaring terus. Tapi jika masalah nya selesai maka hidup kembali teratur dan merasakan kegembiraan dan kesehatan.

Pengalaman ini pernah bertahun tahun saya rasakan pada saat belum menikah. Saya dari kecil sakit sakitan dari mulai sakit gigi, sakit kepala, sakit kaki, sembelit parah, dan semua sakit saya pernah rasakan. Tapi sejak menikah dan kehidupan saya bahagia, saya bahkan lupa kapan saya pernah sakit. Masa melahirkan 3 putra putri pun saya rasakan dalam keadaan mood yang baik dan kesehatan fisik yang prima.

Tahun 2001 saya menikah hingga tahun 2018 sebuah badai prahara datang, sejak itu saya merasa kehidupan sedang kembali berputar ke masa sebelum menikah. Saya rapuh, roboh dan terseok-seok. Mulai sering sakit, merasa tidak fit dan tidak berdaya menghadapi berbagai kesibukan menyebabkan saya sering gelisah, cemas dan takut. Keadaan ini hanya saya yang merasakan dari hari ke hari. Namun lama kelamaan, suami dan anak-anak mulai terimbas dan mulai bertanya. Barulah kemudian saya menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan psikis saya.

Sejak itu saya belajar lagi membaca-baca tentang ciri gangguan fisik yang diakibatkan dari gangguan psikis. Saya mulai merasa perlu menemui psikolog. Lalu, benarlah adanya bahwa saya terdiagnosa ada gangguan psikologis yang saya alami waktu kecil namun tersembuhkan oleh suasana kehidupan dan bahagia di masa pernikahan. Namun kini kambuh kembali karena banyak trauma yang terpicu sehingga menyebabkan kondisi psikis saya mengalami sakit dan harus menjalani pemulihan pengobatan.

Begitulah kini kehidupan saya sedang berpihak pada keadaan yang membuat saya harus berjuang terbebas dari luka batin pengabaian di masa kecil. Terungkap bahwa latar belakang perceraian orang tua saya sangat menimbulkan luka traumatis yang harus dipulihkan karena ternyata selama ini waktu tidak berhasil menyembuhkannya. Meski selama ini terasa dan tampak baik-baik saja, meski usia saya semakin mendekati masa tua, tapi ternyata saya masih membawa jiwa anak yang sempat kehilangan perhatian dan menyebabkan saya di masa kini selalu terbentur banyak trauma. Saya belum cukup dewasa untuk sehat secara psikis.

Bismillah … Saya bersyukur semoga belum terlambat saya menyadari ini dan saya akan terus mencari cara agar semua pulih kembali. Semoga masih ada waktu untuk saya dapat kembali sehat agar bisa meneruskan pengasuhan dan perhatian terhadap ketiga putra putri saya yang masih dalam taraf perkembangan. Serta dapat menjalankan kembali tanggung jawab sebagai istri dan ibu dengan baik seperti yang sudah pernah saya lalui.

Salam semangat untuk siapapun yang pernah atau sedang mengalami sakit psikis, semoga Tuhan menolong mencarikan jalan keluar cara pemulihan untuk sehat selalu. Aamiin.

NubarNulisBareng/Lina Herlina

Referensi Kata kata dalam foto dari Building Professional Counselor (BPC)