SAJADAH PANJANG

Aku mengenalmu ketika luka itu datang, aku mencarimu ketika sedih dan air mata mulai berteman. Mengapa hatiku serasa meronta dan kian sesak, seakan ditimpa sebongkah batu besar?
Salahku…
Ketika tawa dan bahagia datang, terkadang aku lupa padamu. Lupa tak kutengadahkan kedua tangan, tak ada ungkapan rasa syukur dan terima kasihku. Sungguh aku yang terlalu..
Aku sibuk mencarimu, ketika air mata mulai berlinang, tak tertahankan. Baru kusebut nama-Mu kulantunkan dalam setiap doaku, kuminta sesuatu yang sesungguhnya dapat Kau berikan, namun mengapa baru sekarang?
Dengan khusyuknya aku gulirkan bola-bola tasbih, menyebut nama-Mu, meminta kasih-Mu.
Kuharap Kau tak murka padaku, Kau tak marah kan padaku?
Sungguh aku tak tahu malu. Ampuni aku dengan segala kelupaan ku.
Mengapa masih kutanyakan, padahal Kau amat sayang padaku. Tak pernah sekalipun Kau berikan ujian di luar kemampuanku, tak pernah sekalipun Kau berikan beban yang tak sanggup ku’pikul sendirian.
Masih sering saja kupertanyakan, mengapa? Kenapa?
Aku yang salah…
Tak seharusnya, tak semestinya.
Padahal kutahu, jangan pernah menyimpan namanya dalam hatiku, namun simpan dalam doaku. Aku yang menyangkal, aku yang terlalu terlena.
Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah…
Jangan pernah biarkan hati ini menangis lagi, karena sudah kusimpan tangis ini hanya untuk-Mu.
Jangan biarkan aku sendiri, karena aku tahu Kau selalu ada di sini.
Di hatiku.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu