Sahur Pertama Riri

Sahur Pertama Riri

Riri mengerucutkan bibirnya sembari memandangi sang bunda yang sedang menata makanan di atas meja. Sesekali gadis kecil kelas satu SD itu menguap dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Ayo cuci muka dulu,” pinta ayah yang kemudian duduk di sebelahnya.


“Riri enggak mau sahur! Enggak jadi puasa!” Tiba-tiba Riri merajuk dan melipat kedua tangannya di depan dada.


“Loh, kenapa, Sayang?” tanya bunda dengan sabar.


“Riri enggak suka makanannya, Bunda! Tuh ‘kan, enggak ada sosis gorengnya. Padahal Riri sudah bilang ingin makan itu pas sahur.” Gadis kecil itu mendorong piringnya.


“Ri!” Ayah menegur dengan wajah marah. Riri hanya menunduk tak berani menatap. Sedikit demi sedikit air matanya mulai mengalir.


Bunda menepuk lembut pundak ayah, lalu berkata, “Ayo, Ayah ambil sayurnya. Nanti keburu imsak.”


Sementara ayah dan bunda bersantap sahur, Riri masih tenggelam dalam kekesalannya. Ia hanya berdiam diri di tempat duduknya dengan air mata yang terus mengalir.


“Ayah, tadi siang Bunda lihat di televisi, betapa kasihannya anak-anak yang tinggal di daerah perang. Jangankan untuk sahur dengan makanan lezat, bahkan untuk tidur dengan nyaman saja mereka tidak bisa.” Bunda dan ayah melirik Riri.


Riri ingat, tadi siang ia dan bunda menonton televisi bersama. Dirinya menyaksikan siaran berita tentang anak-anak di perbatasan daerah konflik. Sangat menyedihkan. Rumah yang hancur terkena meriam, sekolah-sekolah yang roboh, pakaian seadanya, dan makanan yang tidak layak. Tak jarang anak-anak seusia dirinya itu, telah menjadi yatim piatu akibat orang tua yang telah tiada karena tertembak. Mereka hidup dalam ketakutan. Setiap waktu nyawa mereka terancam. Ditambah lagi wabah Covid-19 yang ikut-ikutan mengintai.


Seketika Riri merasa menyesal. Ia ingat pesan pak guru di sekolah, bahwa sebagai manusia kita harus bisa bersyukur atas apa yang Tuhan sudah berikan. Tidak semua orang bisa merasakan kenyamanan seperti yang ia rasakan sekarang.


Denting sendok yang beradu dengan piring membuyarkan lamunan Riri. Kini, ia menatap sajian makanan yang ada di depannya. Nasi hangat, telur dadar, sayur bening bayam, dan segelas susu cokelat kesukaannya.


“Sayang sekali ya, Yah. Padahal Bunda sudah masak enak untuk sahur pertama ini. Namun, sepertinya putri kecil kita enggak mau makan,” ujar bunda.


“Kalau enggak mau, ya … biar Ayah saja yang makan. Eh, ada susu cokelat lagi.” Ayah menjulurkan tangannya seakan hendak mengambil segelas susu milik Riri.


“Ayah … Riri mau minum susu.” Riri menahan gelasnya.


“Mau makan sahur juga, enggak?” tanya bunda seraya tersenyum.


Riri mengangguk dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


“Riri jadi puasa, sekarang mau makan dulu,” celoteh Riri yang disambut gelak tawa kedua orang tuanya.


Di dalam hati, Riri berjanji tidak akan memaksakan keinginannya lagi. Ia pun ingin bisa menjadi orang yang pandai bersyukur.


“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Gambar: pixabay

Nulisbareng/Asri Susila Ningrum