Sahur Pertama Ramadhan 1441 H

Awal puasa tahun ini, banyak keluarga yang tidak bisa sahur dan berbuka puasa secara layak. Mungkin hanya bisa mengganjal perut dengan seteguk air, atau sebungkus mi instan, sekeluarga. Covid-19 ini membuat perekonomian lesu. Banyak karyawan dirumahkan atau hanya mendapat sepersekian gaji. Sektor e-commerce atau segala yang berbau online, serta jasa antar makanan, bahan pokok atau barang, menjadi naik daun.

Sahur keluarga kami di pertama, tidak ada yang istimewa atau yang berbeda dari tahuh sebelumnya. Selalu ada madu, kurma, sayur berkuah, permintaan dari suami. Anak yang berumur empat tahun belum mau ikut berpuasa, sehingga saya hanya menyiapkan menu sahur untuk berdua dengan suami. Namun ada hal istimewa bagi kami, yakni, rasa syukur. Bersyukur masih bisa makan sahur dengan menu nasi, lauk, sayur, bahkan madu serta kurma, di masa saat ini. Masya Allah ….

Puasa hari pertama di tahun ini sungguh berbeda. Biasanya kita menyambut Ramadan dengan tarawih di masjid. Hampir semua shaf penuh dengan jamaah tarawih. Namun, tahun ini, masjid ditutup karena adanya pandemi Covid-19. Sungguh, hati sangat rindu dengan tarawih serta banyaknya kajian di masjid ….

Begitu juga saat berbuka puasa. Biasanya banyak penjual makanan untuk berbuka puasa, di pinggir jalan. Sekarang? Ibu-ibu lebih memilih untuk membuat jajanan dan makanan takjil sendiri di dapur. Tentunya dengan alasan kehigienisan serta belajar memasak dan mengisi waktu. Pedagang kecil menjerit, kadang menawarkan di status medsos dengan harapan teman-temannya membeli. Tapi bagaimana dengan penjual gerobakan, yang sudah tua, dan tidak mengenal medsos?

Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah ‘ala kuli hal. Mungkin rasa syukur ini baru kembali di hati dalam kondisi saat ini. Sungguh, terlampau banyak nikmat dari-Nya yang kadang luput disyukuri. Termasuk nikmat sehat, bisa ke masjid kapan saja, bahkan keluar rumah kapan saja untuk beraktivitas ….