Sahur Pertama di Kampung Tercinta

Sahur Pertama di Kampung Tercinta

Ramadan sudah menampakkan dirinya. Sungguh, ini adalah Ramadan yang paling beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu sahur pertama dilakukan biasa saja di perantauan, hanya berdua dengan suami tercinta, kemudian di tahun-tahun berikutnya selain dengan suami juga ditemani anak-anak.

Namun, kali ini tak seperti biasanya. Ini pertama kali setelah puluhan tahun bisa merasakan sahur pertama bersama orang tua dan sanak saudara. Saya bilang ini hikmah adanya Corona. Karena kedatangannya saya merasakan pulang kampung terlama karena biasanya paling lama 1 minggu saja.

Kesan sahur pertama …

Tak ada yang istimewa sebenarnya karena kami makan seadanya. Namun satu hal yang membuat rasa bahagia adalah bisa menikmati kumpul keluarga di tengah pandemi corona. Sesuatu yang baru kali ini terjadi setelah bertemu Ramadan berkali-kali.

Walaupun tidak menyediakan makanan beraneka rupa, tapi kami selalu berusaha untuk makan sahur. Ngalap berkah kalau kata orang Jawa mah. Memang, seperti yang rasulullah ajarkan, terdapat keberkahan dalam makan sahur.

Sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)

Maka, walau apa pun kondisinya tetap berusaha melakukan makan sahur. Tantangan terberat adalah membangunkan anak-anak yang masih kecil. Mereka belum terbiasa bangun sepagi itu. Harus pandai membujuk mereka. Uniknya, yang dibangunkan kakak-kakaknya eh yang bangun duluan adalah si bayi. Alhasil ya wassalam, emak tetap jadi mommy kanguru dan menikmati makan sahurnya sambil gendong baby F.

Tetap semangat ya sahabat semuanya, walaupun kondisi seadanya karena sedang tak bisa kemana-mana selama masa karantina, tapi tetap usahakan makan sahur dengan semangat. Semoga kita mendapatkan segala keutamannya.

Wina Elfayyadh