Saatnya Peminta lebih baik dari Pemberi

Pagi ini aku harus masuk kantor. Meski sudah ada instruksi pusat tentang perpanjangan work from home, pimpinan belum mengambil diskresi. Jadilah si sulung yang biasa tidur lagi setelah aktivitas subuhnya, mengantarku. Jalanan lengang, dan kami melaju dalam diam. Suara penyiar radio mendominasi.

Dreeet…dreeet…dreeeet. Androidku yang terletak di dashboard bergetar.
Uncu, kulihat nama itu terpampang dilayar.

“Assalamu’alaikum Uncu.” Ujarku sembari tersenyum.

“Wa’alaikumsalam. Akak apa kabar? Masih batuk kah?* suaranya jernih terdengar.

“Alhamdulillah. Kalian di sana bagaimana? Masih di lockdown?”

“Yup, masih. Indonesia juga ya. PSBB bukan?”

“Ya begitulah, oya Ncu, maaf lahir batin ya. Semoga Ramadan kali ini berkah mengusir virus itu.”

“Akaaa..k! It’s not fair lah. Kan aku nelpon untuk itu. Kenapa Akak yang mendahului minta maaf.”

Aku tertawa. Uncu adalah adik bungsuku. Ia sedang mengambil gelar doktor bersama istrinya di negara tetangga, Malaysia.

“Tak payah pun. Yang penting esensinya kan. Salam buat Naira, Fatma dan Fatmi ya.”

“Oke deh. Maaf lahir batin. Salam buat Abang, Rais dan Raisa ya Kak. Selamat puasa.”

Sambungan itu putus. Ini Ramadan ketiga mereka tidak pulang.

“Uncu ya Bun?” Suara sulungku mengembalikan angan.

“Iya, maaf lahir batin dan selamat berpuasa katanya.”

“Kenapa ya Bun, ada kebiasaan minta maaf menjelang Ramadan? Bukankah minta maaf itu dilakukan begitu kita menyadari perbuatan yang salah.”

‘Emang Abang selalu tahu kapan berbuat salah?”

“Ya tahulah, hati akan merasa tidak enak, ada yang kurang pas aja dan jadi gelisah.”

“Benar tuh. Hati yang bersih bisa jadi alarm bagi kita.Tapi itu agak lemah diteksinya, bila terkait relasi dengan sesama.”

“Maksudnya Bun?”

“Saat Abang bawa kendaraan dan menerobos lalu lintas, hatinya nggak nyaman kan? Berarti alarmnya bunyi. Ngasih tahu kalau Abang melakukan kesalahan. Nah kalau lagi jalan Abang berpapasan dengan teman kuliah, lalu Abang tidak tersenyum, dan dia tersinggung, alarm Abang nyala ngak?”

“Rasanya nggak nyala deh Bun. Emang salah nggak senyum. Secara aku juga mahal senyum kan.”

“Disitu uniknya relasi dengan manusia. Kamu merasa benar, yang menanggapinya belum tentu. Atau terjadi sebaliknya. Begitu kamu kesal atas sikap atau perilaku seseorang, kamu menggerutu atau malah membicarakannya dengan orang lain. Jadi berlipat kesalahannya.”

“Ah… i see. Makanya ada istilah salah dan khilaf ya.”

“Yes. Good point.”

“Tapi Bun belum terjawab lho, kenapa melakukannya menjelang Ramadan.”

“Lhoo… kan mau puasa. Mau melakukan ibadah yang menyucikan diri dari salah dan dosa. Itu sama Allah kan. Nah biar benar- benar bersih, kudu diselesaikan dulu dengan manusia. Maka harus minta maaf.”

Mobil berhenti di lampu merah tempat biasa aku membeli koran pagi. Hari ini lopernya tidak ada. Mungkinkah mereka juga sudah tidak mengecer koran lagi sejak wabah itu datang?

“Bun, bener ya Malaikat Jibril minta sama Allah puasa kita nggak usah diterima jika nggak minta maaf?” Abang menarikku lagi.

“Yup benar banget. Do’a Malaikat Jibril itu tepatnya begini; Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan :
1) memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2) bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
3) bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Nah kelihatan sekali pentingnya minta maaf sebelum Ramadan kan. Kalau Ibu ndak salah doa ini diaminkan Rasullullah lho”

“Ok Bun, dan aku juga bisa simpulkan, saat menyambut Ramadan para peminta lebih baik dari para pemberi” sulungku bicara sambil berbelok memasuki halaman gedung kantor.

“Lho… bukannya yang memberi lebih baik dari yang meminta Bang. Ingat tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Ujarku meluruskan.

“Enggak Bun, bukankah orang yang meminta maaf duluan itu lebih baik Bun.” Sahutnya sambil tersenyum dan menghentikan mobil di depan lobby gedung kantorku.

“Hmm, boleh juga ya. Bunda turun dulu ya Nak, nanti sore biar Bapak yang jemput.”

“Bentar Bun, maafkan Abang ya Bun lahir dan batin” Sulungku mengulurkan tangannya.
Aku tersenyum dan menyambutnya.

“Ibu juga minta maaf ya, moga puasa kita berkah dan corona musnah.”

“Aamiin.” Sulungku mencium tanganku.

“Makasih ya Nak, hati-hati di jalan.” Aku keluar dari mobil dan bersiap masuk kantor.

Eitss.., ternyata protokol covid sudah menunggu. Aku harus ditembak dulu, tepatnya diukur dulu suhu tubuhnya. Alhamdulillah. 36.1. Saatnya memulai aktivitas.