Saat Tenggelamnya Matahari

Saat Tenggelamnya Matahari

Mbah Suci adalah seorang pensiunan pegawai negri yang kini sudah berusia 80 tahun sudah sepuh dan lelah dengan berbagai ujian hidup, dan mbah Tarjo orang biasa yang tidak berpenghasilan usianya juga gak kalah sepuh dari mbah Suci 86tahun, jadi kehidupan sehari harinya hanya menggantungkan belas kasihan dari hasil pensiun istrinya yang tak seberapa.

Ke sepuluh anaknya jauh dari rasa menyayangi kedua orangtuanya, padahal kedua orang tua itu adalah sosok orang tua yang sabar dan penyayang, tapi justru rasa sayang yang berlebihan itulah yang membuat mereka rugi dihari tua mereka. Menjejali anak mereka dengan segudang ilmu dunia dan ijazah tanpa diimbangi dengan Aqidah islam dan tsaqofah.

Jangankan menengok, menelfon pun tidak pernah padahal beberapa diantaranya ada yang tinggal satu kota.

Keduanya pasutri renta itu tinggal dirumah sederhana, jauh dari komunikasi anak dan cucunya, seorang nenek yang tua renta yang sering sakit sakitan harus mengurus dirinya sendiri, mulai aktifitas memasak mencuci bahkan pergi berobat juga seorang diri. Dan anak anaknya akan datang pada saat butuh uang saja bahkan salah satunya tega menggadaikan surat pensiun ibunya demi kebutuhan pribadinya. Sepi sangat mendera diusia senja, setiap kali mendengar suara Adzan yang terucap Alhamdulillah, kapankah malaikat Izroil tiba…menjemput rasa lelah dari sepinya dunia yang fana.

Mbah Tarjo, awalnya hanya menderita katarak yang sudah pernah dioprasi tapi gagal, hingga mata sebelahnya tetap rabun, aktifitas sehari hari mengandalkan mata sebelah saja, tapi sekarang mata sebelah yang diandalkannya kian rabun dan kedua matanya menjadi buta. Lelah Sang istri menuntun suaminya dengan kondisinya yang juga renta pula akhirnya beliaupun memutuskan untuk mengirim suaminya dipanti werda.

Tiada satu anak pun yang ambil berat sekedar ingin berbakti pada keduanya, hingga keduanya tutup usia, maka terbuanglah kunci surga bagi anak-anak mereka.

LellyHapsari/RumahMediaGrup