Saat Tenggelam Mentari

Bagian 1

“Pak, dengan sangat terpaksa ibu akan mengirim bapak ke panti Werda, sebenarnya aku gak sampai hati ngomong ini ke bapak, tapi bagaimana lagi, kondisiku sendiri juga gak memungkinkan untuk mengurusi bapak lagi, jadi mohon maaf saja klo memang keputusanku harus seperti ini.”

Percakapan itu menyayat hati, dengan isak tangis dan berurai airmata mbah putri mengutarakan perasaannya. Bagaimanapun ada sepasang pasutri yang sudah manula usia diatas 80 th yang seharusnya melewati masa masa tuanya dengan istirahat dan melepas penat lelahnya berkumpul hangat dengan anak cucu tercinta.

Tapi tidak demikian dengan pasangan mbah kakung Tarjo dan mbah putri Suci, dalam mengarungi hidup masing- masing mereka memiliki 10 anak, sebelum mbah Suci menikah dengan mbah Tarjo keduanya dipertemukan masing masing dalam kondisi janda dan duda, masing masing memiliki 4 anak bawaan dengan pasangannya terdahulu. Hingga mereka berdua dipertemukan menikah dan memiliki 2 anak saja, seorang laki laki dan seorang perempuan.

Mbah Suci adalah seorang pensiunan pegawai negri yang kini sudah berusia 80tahun sudah sepuh dan lelah dengan berbagai ujian hidup, dan mbah Tarjo orang biasa yang tidak berpenghasilan usianya juga gak kalah sepuh dari mbah Suci 86tahun, jadi kehidupan sehari harinya hanya menggantungkan belas kasihan dari hasil pensiun istrinya yang tak seberapa. Ke sempuluh anaknya jauh dari rasa menyayangi kedua orangtuanya, padahal kedua orang tua itu adalah sosok orang tua yang sabar dan penyayang, tapi justru rasa sayang yang berlebihan itulah yang membuat mereka rugi dihari tua mereka. Menjejali anak mereka dengan segudang ilmu dunia dan ijazah tanpa diimbangi dengan Aqidah islam dan tsaqofah. Jangankan menengok, menelfon pun tidak pernah padahal beberapa diantaranya ada yang tinggal satu kota.

Bersambung

LellyHapsari/RumahMedia