Saat Perempuan Berkata “Terserah”

Saat Perempuan Berkata “Terserah”

Tulisan ini berdasarkan curhat salah seorang teman (nama tidak disebutkan sesuai dengan request-nya)

Masalah adalah adanya kesenjangan antara harapan dan realita. Semakin tinggi kesenjangan tersebut semakin besar masalah dan sebaliknya semakin sedikit maka semakin kecil juga tingkat masalahnya.

Sunatullah, setiap manusia pasti akan menemukan masalah dalam hidupnya. Entah masalah dengan keluarga, orang tua, tetangga, sahabat, partner kerja, hingga masalah dengan pasangan. Namun setiap orang punya gaya khas dalam menyikapi si masalah.

Teman saya mengingatkan untuk hati-hati jika seorang perempuan sudah mengatakan kata “terserah”. Maknanya cukup dalam. Jika kata sakral itu sudah terucap artinya dia sudah berada dalam titik kulminasi masalah. Sudah berada dalam titik lelah dan batas kesabaran dirinya.

Jika satu kata ajaib itu sudah mengalir dari mulut seorang perempuan yang hatinya tersakiti, artinya ia sudah menutup mata dari melihat masa lalunya. Ia juga menutup telinga dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut. Sungguh, ia sudah sangat enggan berhubungan dengan segala hal yang terkait dengan masalah tersebut.

Saat seorang perempuan mengatakan terserah sambil berurai air mata, artinya belati cukup tajam menghujam hatinya. Hal itu membuat dia menarik diri dan menjauhi semuanya. Maka, jangan heran jika menemukan seorang perempuan yang enggan berkata sepatah kata pun kepada kita setelah kita menggoreskan luka di jiwanya sengaja maupun tidak.

Jika kata terserah sudah dirapal berulang-ulang dalam hatinya, artinya dia sudah mengambil sikap masa bodoh. Sudah tak mau peduli dengan apa pun yang berhubungan dengan sumber masalah tersebut. Dia sudah menutup hati. Bukan karena sombong tapi lebih ke menjaga hati agar tidak tersakiti.

Dia merasa ada jiwa yang harus dijaga agar tetap sempurna kesadarannya. Ia tak rela jika hatinya terus menerus diabaikan setelah berkali-kali mengajukan sebuah permohonan. Mungkin menurut orang lain permohonan itu sepele, tapi saat hal sepele saja diabaikan bagaimana dengan hal yang lebih besar. Cukup sudah ia menelan kecewa setelah bersabar sekian lama.

Terlebih jika bersangkutan dengan orang ketiga, setelah sekian lama berusaha menjaga. Namun jika berkali-kali kecewa dia sudah tak kuasa menahan gejolak jiwa. Hingga jangan heran saat dia mengatakan “terserah, silakan mau ngapain saja”. Bukan, bukan dia menyerah mempertahankan miliknya, namun lelah di jiwa sudah mendera.

Katanya, jika dulu masih dengan ringan memaafkan, jangan lupa luka karena kecewa tidak hilang begitu saja walaupun maaf sudah terucap. Namun setelah berkali-kali dikecewakan dengan pengulangan kesalahan yang sama, maka lisan tetap terucap maaf, tapi hati masih sulit berkompromi. Dan maaf, bertambah satu noktah yang isinya rasa benci kepada si pendatang baru.

Ah, udah ya, cape juga ternyata menuliskan keluhan orang lain. Inginnya berbagi cerita siapa tahu bisa dijadikan pelajaran berharga. Kadang lucu juga sih perempuan itu rumit ya, saat orang dia sedang di puncak emosi ringan sekali mengatakan kata terserah, tapi giliran dia bertanya kepada orang lain dan dijawab dengan kata yang sama ujungnya ngambek juga. 😁

Tapi apa yang disampaikan teman saya tadi membuat saya berfikir, ternyata begitu ya jika perempuan berkali-kali mengalami kecewa dan luka jiwa. Semoga kita semua terhindar dari semua rasa itu sehingga tetap menjadi perempuan yang bahagia dan penuh cinta.