SAAT AKU DAN KAU MENJADI KITA

Saat itu jam pelajaran olah raga, pak guru memintaku mengambilkan sesuatu di ruang UKS. Ruangan sangat sepi tanpa petugas. Aku terus mencari barang yang diminta guruku. Tiba-tiba aku merasa kaget dan tak bisa bergerak. Pak guru sudah berada disana. Kedua lengan besarnya mengunci tubuhku. Aku terus meronta, dan berusaha berteriak. Tapi tangannya menutup mulutku. Dengan kekuatan tenaga anak perempuan usia 12 tahun yang datang entah darimana, akhirnya aku bisa lepas dari cengkramannya. Aku lari ke lapangan dengan badan menggigil panas dingin. Shok tak tertahankan.

Kisah itu terjadi dua puluh enam tahun yang lalu. Dan sekarang kisah itu berulang dengan pelaku yang berbeda dan cerita yang berbeda bahkan lebih buruk dari itu. mungkin ada banyak yang tidak seberuntung aku. Berita tentang perlakuan tidak patut yang dilakukan oknum guru kepada siswa mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Menengah Atas kerap kita dengar di media elektronik dan media cetak.

Mengapa ini terjadi? lebih buruknya lagi mengapa hal tersebut terjadi di lingkungan sekolah, yang mestinya sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, kegembiraan, kasih sayang dan perlindungan? Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita cermati dulu apa saja faktor yang menyebabkan kekerasan terjadi di sekolah. Bisa jadi karena faktor psikologis, faktor keluarga, faktor sekolah itu sendiri, faktor teman sebaya, faktor masyarakat dan lingkungan tetangga juga faktor media.

Bagi kita sebagai orang tua mesti dipahami bahwa mendidik anak adalah salah satu kewajiban orang tua. Mengirimkan anak ke sekolah bukan berarti memberikan tanggungjawab sepenuhnya kepada sekolah. Hingga kita tidak mau tahu tata bengek yang ada disekolah. Barulah setelah sesuatu hal yang buruk terjadi, orang tua langsung menyalahkan pihak sekolah.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegahnya, diantaranya: Pertama, senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai manusia kita tidak bisa memantau anak kita selama dua puluh empat jam full. Oleh karena itu dengan berdoa dan melakukan amal baik kita berharap agar keluarga kita terjaga dari hal-hal buruk.

Kedua, menjalin quality time dengan anak. Sesibuk apapun orang tua, harus menyediakan waktu khusus untuk anak dimana kita menjadi sahabat, teman bermain dan tempat curhat bagi mereka. Dengan begitu kedekatan orang tua dan anak akan terbangun hingga jika ada hal buruk terjadi menimpa mereka tidak akan merasa takut untuk bercerita kepada kita. Kenali karakteristik anak kita. Tanamkan nilai-nilai akhlak mulia dan menjadikan kita sebagai role model utamanya.

Ketiga, jalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Minimal kita tahu siapa saja guru-guru atau wali kelas dari anak kita dan tak kalah penting mengenal penjaga sekolahnya. Dengan begitu kegiatan anak di sekolah dapat kita pantau. Secara reguler kita bersilaturahmi kepada para guru untuk mengetahui perkembangan anak kita. Bolehlah kita memberikan sedikit dari rezeki kita sekedar mengamankan kuota penjaga sekolah agar komunikasi, informasi dan silaturahmi berjalan tanpa kendala.

Keempat, kenali dan komunikasi dengan teman-teman anak kita. Kadang anak-anak kita lebih leluasa curhat kepada temannya daripada kepada orang tuanya. Dan kadang anak lebih mendengar apa kata temannya daripada nasehat orang tuanya. Disinilah dibutuhkan jalinan emosi yang kuat dengan anak agar anak lebih merasa aman jika berada dalam pengawasan orang tua.

Lalu apa yang harus dilakukan sekolah agar kekerasan tidak terjadi di sekolah?

Pertama, melakukan komunikasi yang baik dengan pihak orang tua. Secara berkala melaporkan perkembangan anak didik oleh wali kelasnya. Kedua, menginformasikan pada orangtua dan siswa mengenai kebijakan sekolah tentang kekerasan. Ketiga, mendorong siswa untuk melaporkan kekerasan yang dialami. Keempat, menjalin kerjasama antara pihak sekolah, siswa, orang tua, dan masyarakat. Khusus pada kasus pelecehan seksual dibuat pedoman khusus diantaranya menindak tegas pelaku baik itu oknum guru maupun siswa.

Jika hal buruk terjadi di sekolah, siapa yang pertama kali disalahkan? Ya benar. Guru.

Guru merupakan pendidik, tokoh, panutan serta identifikasi bagi para murid yang dididiknya serta lingkungannya. Juga memiliki tugas untuk mengembangkan kepribadian dan membina budi pekerti serta memberikan pengarahan kepada siswa agar menjadi seorang anak yang berbudi luhur. Sebagai guru kita dituntut untuk memahami karakteristik anak. Anak yang datang dari berbagai keluarga dan latar belakang yang berbeda tentu membutuhkan perhatian dan perlakuan yang berbeda pula.

Hal lain yaitu menganggap anak didik seperti anaknya sendiri. Dengan begitu ketika anak melakukan pelanggaran, maka hal yang pertama dilakukan adalah mencari seribu satu alasan untuk tetap berfikir positip. Agar tindakan penegakan kedisiplinan yang kita lakukan semata-mata untuk mendidiknya bukan sebagai pelampiasan kemarahan.