RNB 3

MENJARING IDE
(Ida Saidah)

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata menjaring adalah kata kerja sebagai kata turunan dari kata jaring. Jaring merpakan kata benda yang artinya alat menangkap ikan, burung dan sebagainya yang berupa siratan (rajutan) tali (benang) yang membentuk mata jala. Ide berarti rancangan yang tersusun di dalam pikiran, gagasan, atau cita-cita.

Dalam kaitannya dengan kegiatan tulis-menulis, berdasarkan definisi di atas dapat saya katakan bahwa menjaring ide adalah satu kegiatan untuk mendapatkan atau menangkap apa yang akan dituangkan dalam suatu tulisan. Bagi saya pribadi kegiatan menjaring ide merupakan sebuah proses yang sangat membantu dalam mengembangkan sebuah tulisan. Dari mana saja ide itu dapat saya peroleh? Untuk menemukan jawaban pertanyaan ini, bacalah paparan berikut.

Saya mulai senang menulis sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagaimana remaja pada umumnya di masa itu, saya menuliskan banyak hal di buku harian. Namanya juga buku harian, pasti isinya macam-macam, misalnya saat saya mau berangkat sekolah hujan deras, tetapi saya harus tetap tiba di sekolah. Apa yang sudah saya tulis puluhan tahun itu ternyata dapat dijadikan ide atau gagasan pada saat saya merasa kehabisan sumber cerita ketika mengikuti sebuah tantangan menulis, Lahir lah cerpen “Hujan di Pagi Hari.”

Apa yang saya tulis di masa sekarang tentu tidak persis sama. Ada beberapa penyesuaian di sana sini. Istilah sederhananya, mendaur ulang peristiwa yang pernah terjadi sehingga menjadi satu tulisan yang layak dibaca oleh orang lain atau khalayak.

Selain dari buku harian, saya dapat memperoleh gagasan dari sumber lainnya, misalnya dengan banyak membaca karya orang lain. Ada yang berjenis tulisan faksi, fiksi, atau nonfiksi. Tulisan-tulisan itu benar-benar dapat membantu dalam mendapatkan gagasan. Dengan demikian untuk menjaring ide harus banyak membaca, tidak peduli bacaan yang sudah jadul atau yang baru terbit.

Menjaring ide, selain melalui proses membaca dapat dilakukan dengan kegiatan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar masing-masing. Baik itu peristiwa yang langsung langsung dialami, disaksikan mata kepala sendiri atau melalui tayangan televisi dan media lainnya. Yakin lah ide-ide itu akan muncul membajiri pikiran. Nah setelah ide itu didapat, supaya tidak lepas, tulis atau rekam, walau hanya terdiri dari beberapa kalimat. Mudah bukan.

Meningkatkan pergaulan dengan banyak orang baik langsung maupun melaui grup media sosial juga akan memunculkan banyak ide. Sumber ide ide sungguh bertebaran di mana-mana, jaring lah ide-ide itu sesuai keperluan.

Terakhir dan ini yang terpenting, libatkan lah Tuhan, Allah Subhanahu wataala sebagai pemilik ilmu dari segala ilmu dengan selalu bermohon agar diberi kelancaran dan kemudahan untuk menuangkan ide atau gagasan menjadi tulisan yang akan dihadirkan ke pembaca. Ketahuilah bahwa ilmu Allah itu maha luas sebagaimana firman-Nya dalam dua ayat berikut.

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Artinya: Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (QS.al-Kahfi: 109)

أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya kalimat Allâh tidak akan habis ditulis. (QS.Luqmân: 27)

Nubar

Nulisbareng

Level2

BerkreasiLewatAksara

menulismengabadikankebaikan

week1day3

RNB085JABAR

rumahmediagrup