RIRIN

RIRIN

Melihat sepasang kekasih sedang bermesraan di samping membuat aku tersenyum simpul.

“Bu, ngapain mereka berdua itu?”

Ririn, anakku, ternyata sama, memperhatikan tingkah mereka berdua.

“Jangan dilihat! Fokus nonton saja.”

Aku bisikkan kata-kata itu di telinga Ririn. Aku juga bingung harus bilang apa sama anakku. Menonton film anak kukira aman bagi Ririn. Ingin menyenangkan hatinya, menonton film anak di bioskop.

Ternyata di sebelahku, duduk anak-anak yang kalau ditaksir masih Sekolah Menengah Pertama. Gaya mereka berdua yang membuat aku gerah. Cara mereka bisik-bisik dan cekikian, jelas sedang membuat acara sendiri, tidak serius menonton film yang sedang ditayangkan. Mereka hanya memanfaatkan suasana gelap di ruangan ini saja.

Apalah dayaku, mereka tidak kukenal, kebetulan saja duduk di samping kami. Yang kusesalkan hanya satu, tidak bisa memberi penjelasan yang masuk akal pada Ririn apa yang terjadi. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah mengajak anakku melihat ke layar lebar.

Aku terus memberi komentar adegan-adegan yang berlangsung, mengiring secara halus agar Ririn mau fokus menonton film saja. Melupakan dua remaja yang sedang kasmaran di sebelahku. Untunglah usahaku berhasil, Ririn terlihat bisa melupakan mereka, matanya kembali serius mengikuti jalan cerita di film itu.

Selesai menonton, kuajak Ririn makan di mall itu. Hari memang masih sore, tapi mall sudah ramai dengan anak-anak muda yang menikmati hari minggunya.

“Nanti, aku boleh seperti mereka, Bu?”

Ririn mengikuti pandangan mataku, menatap sepasang muda-mudi yang tadi duduk di sebelah kami di bioskop itu. Mereka sekarang juga sedang makan di depan kami, saling suap.

“Boleh, Nak, tapi kalau sudah kerja seperti ibu. Senang ‘kan jika bisa nonton sama makan-makan dengan uang sendiri?”

Semoga penjelasanku sesuai dengan umur Ririn yang masih kelas tiga sekolah dasar itu.

“Oo … gitu, ya, Bu.”

Ririn mengangguk.dengan cepat, seolah mengerti.

“Hari ini, aku senang sekali. Ibu mengabulkan semua keinginanku. Makan-makan sama nonton di bioskop. Ini karena Ibu sudah punya uang, ya? Sudah kerja.”

“Anak ibu emang pinter. Ya, kita senang-senang pakai gaji ibu. Enak ‘kan kalau punya uang?”

Aku mengelus rambut Ririn yang sebahu itu dengan lembut. Senang melihat dia mengangguk dan makan ayam goreng itu dengan penuh semangat. Mulut mungilnya itu sampai menggembung. Aku tertawa lepas melihat tingkahnya.

Gembira sekali rasanya, akhirnya bisa memenuhi keinginan anakku yang terus kutunda. Bekerja menjadi pembantu di rumah juragan Romlah selama ini, akhirnya baru hari ini bisa kuturuti permintaannya, menikmati hari libur bersama-sama.

Bahagialah selalu, Nak. Aku akan coba memenuhi semua kebutuhanmu sekuat tenaga. Mengajarimu kehidupan sesuai kemampuanku. Akan kucoba memberi masa depan yang lebih baik dari masa depanku sendiri.

Jangan sampai kamu mengalami kehidupan seperti ibumu, Nak. Ditinggal pergi laki-laki yang tidak mau bertanggungjawab. Aku terlalu percaya dengan janji manis kekasih hati. Membiarkan dia merenggut kesucianku atas nama cinta. Setelah aku terlambat datang bulan, dengan seenaknya dia pergi. Mengatakan tidak ada bukti, keadaanku semua adalah perbuatan dia.

“Kenapa melamun, Bu? Kita ke mana lagi sekarang?”

“Kita pulang, ya, Nak. Ibu hanya minta izin sebentar tadi. Ada acara besok, ibu harus masak banyak nanti, semua perlu disiapkan dulu.”

“Ibu janji mau beliin aku baju baru,” rajuk Ririn dengan muka dibuat sedih sehingga aku merasa gemas sekali. Mencubit pipi gembulnya.

“Baiklah! Kita beli baju kemudian segera pulang, puas?”

“Hore! Ibu emang hebat, dah.”

Ririn segera menarik tanganku, mengajak pergi ke jejeran baju-baju model Barbie dengan antusias. Tangan mungilnya sibuk memilih baju yang diinginkannya. Aku ikut memilih dan mengomentari baju-baju itu.

Mencoba melupakan sepasang muda-mudi yang masih asyik bermesraan di muka umum itu. Seolah dunia milik mereka saja, sama seperti kelakuanku dulu. Ada doa tulus kupanjatkan dalam hati, semoga mereka tidak mengalami hal buruk seperti aku.

Diusir dari rumah oleh ibuku, luntang-lantung hidup di kota besar. Menjadi buruh angkut sayuran dengan perut mulai membesar. Keberuntungan saja yang membuat aku tidak mati saat melahirkan. Juragan Romlah yang memiliki beberapa lapak sayur di pasar itu, merasa kasihan padaku. Mengajak tinggal di rumahnya, menjadi pembantu.

“Kamu senang, Nak?”

Saat sampai di rumah juragan Romlah, Ririn terlihat sangat kelelahan. Setelah mandi, dan ganti baju, Ririn bilang mengantuk.

“Terima kasih, ya, Bu. Hari ini, hadiah ulang tahun terbaik. Aku senang sekali.”

Aku hanya mengangguk, tersenyum melihat tingkahnya yang memeluk erat boneka beruang yang tadi tiba-tiba saja sangat diinginkannya.

Biarlah tabunganku menipis lagi, melihat senyum di wajah mungil itu sudah cukup bagiku. Aku akan lebih rajin lagi bekerja, semoga nanti janji juragan Romlah yang akan memepercayakan satu lapaknya untukku akan segera terwujud. Aku hanya harus lebih bekerja keras lagi. Mengharap senyum di bibir anakku akan terus ada.

Semoga suatu saat nanti, bisa mengajak Ririn pulang ke hadapan ibuku. Memohon maafnya. Entahlah, apakah doaku akan terwujud? Apakah ibuku mau menerima Ririn apa adanya? Wajah gadis mungilku persis Rasya, kekasihku. Bukti kebodohanku.

Bali, 07 April 2020

RumahMediaGrup/Ketut Eka Kanatam