RINDU MBAH DI JAKARTA

Rindu Mbah di Jakarta

Percakapan setahun yang lalu

“Bu, lebaran nanti kita jadi mudik kan?” tanya Zahra antusias. Gadis cilik berusia 8 tahun itu sudah teramat rindu dengan mbah uti (panggilan untuk nenek) dan mbah akung (panggilan untuk kakek) di Jakarta. Sudah 2 tahun keluarga kecil yang hidup merantau di Jogja itu tidak mudik karena kesibukan sang Bapak.

“Iya sayang, InsyaAllah lebaran tahun depan kita mudik,” jelas Ibu membuat Zahra berseru senang.

“Eh, tapi apakah Bapak bisa Bu? Kerjaannya gimana?” tanya Zahra yang tiba-tiba ragu mengingat kesibukan Bapaknya di kantor.

“Bapak sudah mulai mengajukan cuti tahunan saat lebaran nanti.” Ibu berkata sambil tersenyum meyakinkan.

Namun, Qodarullah ternyata ada virus Corona datang menyapa bumi. Semua aktivitas jadi kacau. Termasuk rencana mudik keluarga Zahra.

Zahra menangis sedih ketika mendengar peraturan larangan mudik yang disampaikan Bapak dan Ibu. Ia tidak terima karena rencana mudik sudah dibuat setahun yang lalu. Bulan Ramadhan sudah datang, tidak lama lagi lebaran tiba. Gagal sudah rencana Zahra untuk bisa melepas rindu kepada mbahnya di Jakarta.

“Sayang, tenang dulu ya. Sabar. Kondisinya tidak memungkinkan kita untuk mudik.” Ibu memeluk Zahra berusaha menenangkan anak semata wayangnya.

“Zahra sayang, di Jakarta saat ini sudah menjadi daerah yang paling banyak korban terjangkit Corona. Kita harus di rumah saja agar virus itu tidak semakin menyebar. InsyaAllah jika Corona sudah pergi, kita akan mudik. Mbah disana juga pasti sudah sangat rindu dengan cucunya ini,” jelas Bapak Zahra memberi pengertian.

Zahra sudah tidak menangis lagi. Ia mengangguk sebagai tanda menerima penjelasan Ibu dan Bapak walaupun hatinya masih sangat sedih

Zahra mengangkat tangannya berdoa, ” Ya Allah, semoga virus Corona segera pergi. Supaya aku bisa bertemu dengan mbah uti dan mbah akung.”

Ibu dan Bapak Zahra mengamini bersamaan.

Sumber gambar: bukalapak.com

Nulisbareng/ibunyanajma