Review Pemakaian Zoom Clouds Meeting

Review Pemakaian Zoom Clouds Meeting

Melanjutkan curhatan saya dalam cerita “Balada Emak, WFH, dan LFH” (yang belum baca bagaimana rempongnya si emak boleh baca dulu di sini).

Kali ini saya mau mengulas salah satu tools yang membantu lancarnya proses WFH. Selain si lappy (kata anak-anak ini suami kedua saya 😀 gara-gara saya nulis cerita si leppy di “Move On Dari Masa Lalu”) dan juga hp yang sangat berjasa karena berkat tethring darinya semua berjalan lancar.

Sebagai seorang yang berprofesi di dunia pendidikan, sesuatu banget rasanya saat harus melakukan WFH. Karena dengan adanya WFH, transfer ilmu bisa dengan berbagai media, namun touch up-nya kurang terasa. Walaupun demikian, ada tantangan tersendiri saat harus mengajar dengan jarak jauh.

Selama WFH, saya mengajar online menggunakan aplikasi zoom meetings cloud. Awalnya agak kagok karena sudah lama tidak mengajar jarak jauh. Terakhir ngajar online kalau ga salah tahun 2009 atau 2010 itu pun aku menggunakan skype dan wiziq.

Tak terlalu sulit mengoperasikannya, dalam waktu singkat pun alhamdulillah berhasil mengotak atik aplikasi ini. Kendala di awal hanya di pengaturan suara, karena saat aplikasi dinyalakan tidak terdengar suara apa pun.

Sumber: Dokumen Pribadi

So far, aplikasi ini cukup membantu karena mengajar bisa interaktif dengan seluruh siswa, bisa memastikan siswa hadir dan aktif (dengan catatan kamera harus dinyalakan ya, soalnya kalau kamera off bisa saja Zoom nya nyala tapi anaknya entah di mana).

Fitur yang tersedia dalam aplikasi Zoom: audio, video, chat, berbagi layar (share screen), penelusuran atensi peserta, fitur bagi host, dan untuk Zoom berbayar bisa menampung 1.000 orang dalam satu waktu.

Yang perlu kita perhatikan saat kita menggunakan aplikasi Zoom adalah: sebaiknya memperhatikan penampilan diri sendiri, pastikan penampilan kita tetap oke terlebih untuk seorang guru, jangan sampai kondisi acak-acakan atau baru bangun tidur dan lupa belum cuci muka 😂 sudah menyapa siswa. Hal itu bisa menjatuhkan wibawa kita.

Perhatikan juga kondisi sekitar layak atau tidak untuk terlihat. Jika rumah sedang dalam kondisi berantakan dan belum sempat merapikan, carilah sudut yang lebih rapi dan nyaman untuk dilihat para siswa. Oh iya, tips dari saya sebaiknya untuk awal suara dan kamera dalam keadaan off. Mic dan dinyalakan saat kondisi sudah siap.

Secara umum, dengan adanya Zoom cukup membantu terlaksananya pembelajaran klasikal tatap muka walaupun rasanya tetap tidak sama saat bertemu offline. Bisa komunikasi dua arah dan berbagi screen walaupun untuk whiteboard sepertinya agak kurang nyaman karena menulis di whiteboard asli dengan di Zoom tetap terasa berbeda hasilnya 😅. Tulisan menjadi jelek karena menulisnya tidak seluwes di papan tulis biasa.

Saya pernah share video tapi suara di anak-anak tidak terlalu baik bahkan sering nge-lag. Solusinya, kita kirimkan link video ke anak-anak, biarkan mereka melihat di gadgetnya masing-masing, setelah itu baru diskusi atau tanya jawab.

Di Zoom juga ada fitur breakouts yang mempermudah diskusi grup dalam pembelajaran. Oh iya untuk fitur chat juga bisa ditujukan untuk privately (ke orang tertentu) atau ditujukan ke semua orang (everyone).

Demikian review saya terkait penggunaan aplikasi ini. Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/wina