RETISALYA DI MUSIM GUGUR

Retisalya di Musim Gugur

“Rey, aku punya hadiah buat kamu. Spesial karena kamu lagi ulang tahun!” Teriakan Hasna mengembalikan angan yang sedang mengembara entah kemana.

“Apa sih Has, kebiasaan deh kamu suka mengagetkanku.” Reyna menggerutu kecil.

“Reyna sayang, sudah seminggu ini kamu tidak makan, tidak minum dan tidak tidur. Lihat tuh sudah mirip mayat hidup. Sudahlah move on saja, dia bukan jodoh yang baik untukmu.” Hasna berkata sambil memeluk Reyna erat.

“Pokoknya kamu bersiap, besok pesawat take off jam 5 pagi. Sampai jumpa besok cintaku!” Lanjut Hasna sambil beranjak meninggalkan Reyna.

***

Terbayang kejadian seminggu yang lalu, saat ia seharusnya menjadi ratu sehari namun tragedi terjadi. Lelaki yang melamarnya datang seorang diri dan membatalkan acara sakral yang sudah dinanti. Tak terbayang, betapa malunya keluarga Reyna sementara para tamu sudah banyak yang hadir. Tak ada setetes pun air mata Reyna yang keluar, namun hatinya sudah berdarah parah. Ia merasa bersalah telah mencoreng muka orang tuanya.

Sudah satu minggu Reyna mengurung diri. Tak setetes air maupun sebutir nasi masuk ke perutnya. Tidak ada siapa pun yang diizinkan masuk ke istana tempat dia menyepi. Namun, hari ini ia akhirnya luluh karena ia tahu Hasna tiap hari menunggu di depan kamarnya. Dengan sempoyongan ia membuka pintu dan memeluk Hasna tanpa basa basi.

Hasna adalah sahabat terbaik yang dia miliki. Ia membawa dua buah tiket dan mengajak Reyna pergi keliling Eropa mengikuti salah satu agen travel langganannya. Katanya sengaja ia memilih ke sana karena bertepatan dengan musim gugur tiba. Ia ingin mengajak Reyna untuk menikmati pemandangan pepohonan yang mulai terlihat cantik berganti warna di pertengahan musim.

***

Dalam hati kecil Reyna ia merasa heran bagaimana caranya visa dan tiket sudah siap padahal selama persiapan acara pernikahan Reyna dan Hasna hampir selalu bersama. Itinerary juga sudah tersusun rapi (kalau ini mungkin dibuat oleh pihak travel) dengan rute perjalanan akan dimulai dari Paris-Brusels, Belgia-Amsterdam-Jerman- Swiss-Italia-Roma.

Semua tempat yang dituju adalah negara-negara yang ingin ia kunjungi. Ia tak habis pikir kenapa Hasna bisa memilih rute ini, padahal hanya satu orang yang tahu keinginannya tersebut. Bahkan rute ini adalah rancangan mereka berdua dulu. Tapi, Ah, sudahlah … Ia tak ingin menyiram kembali luka yang masih basah.

***

Negara yang pertama kali dikunjungi adalah Prancis. Negara yang sudah lama diimpikan oleh Reyna. Ia sangat memimpikan bisa menikmati suasana romantis di bawah menara Eiffel dan mengunjungi Museum Leuvre yang sangat terkenal. Namun, Paris yang romantis kini malah membuatnya menangis dalam diam.

Sore ini, di salah satu kedai kopi, tempat yang sangat cozy, Reyna terpekur sambil melihat pemandangan di luar. Di sana terlihat hijaunya daun tergantikan warna merah, kuning, dan cokelat, dan sebagian berguguran memenuhi tanah. Dalam perenungannya tersebut, Reyna menyadari bahwa semua tak ada yang abadi. Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, dan ia yakin, kemalangan yang menimpa dirinya adalah takdir terbaik yang harus diterima.

“Has, setelah melihat daun yang berguguran itu, kini aku sadar, sudah waktunya aku merelakan sesuatu yang memang harusnya pergi.” Bisik Reyna lirih.

Hasna tersenyum sambil memeluk Reyna. Ia hanya ingin menjadi pendengar yang baik dan berharap senyum Reyna bisa terbit kembali seperti semula.

Diam-diam dia menulis text melalui aplikasi berwarna hijau. Tulisan “Mission success.” terkirim dengan sangat cepat. Sementara si penerima pesan nun jauh di sana tersenyum ketir saat menerima pesan dari Hasna.

Wina Elfayyadh

#Nubar
#NulisBareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week3day3
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup