Restu – Bagian 1

Restu – Bagian 1

“God damn it.” Umpat Zayn kesal, ia berusaha meraih ponsel dari meja kecil di samping ranjangnya. Dengan kasar ia menekan tombol jawab pada ponsel yang sejak tadi berdering, menggangu tidurnya.


“Halllo.” Ucapnya masih menggantuk.


“Kak Zayn, ini Lia kak.” Wanita yang memperkenalkan diri sebagai Lia tersebut bicara sambil terisak.


“Ada apa? Ngapain nelpon jam segini?” Zayn tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Tak heran, ia baru saja merasakan nikmatnya tidur dua jam yang lalu dan sekarang telepon dari orang yang mengaku bernama Lia tersebut sudah mengejutkannya.


“Kak Zayn, kak Restu meninggal kak.” Ucap wanita itu pilu, sedetik kemudian sambungan telpon terputus.


Zayn hanya diam, berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 05.25 dini hari. ia duduk dan menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang, rasa pusing akibat screwdriver vodka yang dikonsumsinya semalam belum juga hilang.


Butuh waktu sekitar lima menit untuk Zayn mengumpulkan kesadarannya secara penuh, setelah itu ia meraih ponsel dan menemukan 30 panggilan tak terjawab, 20 pesan masuk yang belum dibaca juga 230 chat yang kesemuanya mengabarkan berita duka atas kematian Restu Pramudya, sahabat dekatnya.


Zayn tercekat, tangannya bergetar hingga ponsel yang ia pegang jatuh begitu saja. Tak percaya, sedih, marah semua rasa bercampur dalam dirinya. Bagaimana tidak? Kemarin sore ia dan Restu baru saja bertukar kabar lewat sambungan telepon, keduanya bercerita panjang lebar tentang kehidupan masing-masing.


“Loe kapan insafnya bray? Ga bosen apa party terus, mabok terus. Kasihan tuh wanita-wanita yang loe rusak masa depannya.” Canda Restu.


“Anjiiis, kebalik bray ceweknya yang ngerusk gw. Loe kayak ga kenal gw, Zayn Aswangga pria keren tapi kalem.” Zayn terkekeh.


“Ingat umur Zayn, Jodan aja udah mau kelas tiga SD loh. Apa perlu gw cariin buat loe? Ranti punya banyak kenalan cewek baik-baik.” Tawar Restu.


“Gw nunggu Ranti janda aja deh.” Jawab Zayn asal.


“Sialaaannn…” Teriak Restu marah, Zayn tak bisa menahan tawa menanggapi kekesalan sahabatnnya itu.


“Lagian lu, udah kayak nyokap gw aja berisiknya.”


“Tapi serius Zayn, kalau sampai terjadi sesuatu sama gw. Gw berharap loe bisa jagain Ranti dan Jodan buat gw.”

Ingatan Zayn memutar kembali percakapan terakhirnya bersama Restu.

Bersambung……

Rumediagrup/Tiwi_Pratiwi