REALITA KETIDAKSEMPURNAAN

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Sebagaimana statusnya sebagai “ciptaan” maka ia terikat dengan “ketidakkuasaan” atas dirinya. Manusia tidak sempurna dan tidak abadi. Dalam posisinya sebagai makhluk yang diciptakan Tuhannya, maka hanya Tuhan pulalah yang memiliki kuasa atas kehidupannya, ketidaksempurnaannya serta atas kematiannya.

Masalah akan dirasakan manusia manakala ia tidak mengetahui, tidak memahami bahkan tidak menerima realita atas dirinya. Mengapa menjadi masalah? Karena dengan otak dan hatinya, manusia diberi kemampuan mereka-reka harapan dan impian, lalu diberi kemampuan pula untuk memproses mewujudkan harapan dan impian tersebut.

Namun kemudian Tuhan menetapkan bahwa hanya kuasanya yang mengesahkan harapan dan impian itu terwujud atau tidak. Tuhan menghargai proses namun memanajemen pemberian “hadiah” atau “pahala”nya tidak semuanya diberikan di dunia tapi ada beberapa yang harus ditunda untuk diberikan di akhirat.

Di sinilah manusia terhadapkan pada statusnya sebagai makhluk yang “tidak tahu jika tidak diberitahu Tuhan” atau “tidak tahu jika tidak mencari ilmunya untuk tahu. Oleh karenanya manusia seringkali lupa bahwa Tuhan menciptakan manusia juga menciptakannya dalam ketidaksempurnaan. Bahwa manusia satu sama lain saling memiliki kekurangan sehingga saling melengkapi dengan yang saling memiliki kelebihan. Manusia sengaja tidak sempurna agar tergantung satu sama lain dan tergantung kepada penciptanya.

Ketidaksempurnaanlah yang menjalankan roda kehidupan. Manusia harus berdoa jika mengharapkan sesuatu karena manusia manusia tidak bisa mewujudkannya begitu saja. Manusi harus berusaha agar terpenuhi segala keinginannya karena manusia tidak bisa menyulap begitu saja segala keinginannya hadir sekejap secara tiba-tiba. Manusia sangat harus menerima realita ketidaksempurnaannya agar bisa menghargai adanya manusia lain dan seluruh makhluk Tuhan lainnya di bumi ini

Hosting Unlimited Indonesia