RAONO (Cernak-cerbung- bag. 9)

RAMADAN EKSLUSIF

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, aku masih diberi kesempatan untuk menghirup oksigen secara gratis. Usiaku, usia kita semua dapat sampai ke bulan Ramadan, bulan penuh berkah dan pengampunan.

Tentang bulan berkah di kesempatan sekarang, ada yang memaknai secara kasat mata. Berkah bagi mereka yang mempunyai gaji tetap dari pemerintah. Namun bagi pekerja harian dan serabutan sungguh bertolak belakang. Banyak minta ampunnya. Ampun tidak punya uang untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Ampun tidak ada kuota untuk mengikuti proses belajar daring. Ampun tidak dapat tunjangan hari raya dari orang yang mudik.

Ramadan tahun ini sungguh terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mesjid yang biasanya penuh jadi kosong-melompong. Ini tidak lain dampak si Coronavirus yang katanya memiliki penampakkan yang indah, cantik sesuai namanya ‘mahkota’. Sayang seribu sayang, penampakan itu sungguh bertolak belakang dengan dampak yang ditimbulkannya.

Akh, aku tidak tahu dengan begitu pasti dengan tampilan gambar yang banyak bertebaran di televisi, pamflet, dan media sosial. Aku Cukup percaya saja sama apa yang diinformasikan mereka. Ya betul mereka, para ahli dan orang pintar itu.

Bagaimana aku tidak percaya, sebab sekelas Presiden sebagai kepala negara mempercayainya. Lantas Beliau secara langsung menyampaikan apa yang wajib dikerjakan dan dihindari oleh warga masyarakat.

Apakah seorang kepala negara pernah melihat langsung mahkluk tidak kasat mata, si Coronavirus lewat alat pembesar. Akh, itu tidak tahu pula aku.

Yang aku tahu, di antaranya, anak-anak dilarang pergi ke sekolah. Disuruh belajar bersama ayah bundanya. Ya bersama bundaku. Masalahnya , bundaku tidak memiliki keterampilan mengajarinya untuk pintar banyak materi. Betul ada banyak video di YouTube, ya tetap saja aku sulit paham. Tiba-tiba harus menyelesaikan sejumlah soal yang hasil pengerjaan harus dikirim ke guru via foto.

Aku jadi uring-uringan, mau tanya ke teman lewat WA, umumnya mereka sama. Sama tak pahamnya. Jadi lah rame di media sosial. Sampai-sampai bunda ikut pusing juga. Biasanya bunda langsung wapri ke guru kelasku yang baiknya selangit. “Sudah sebisanya saja dikerjakan”. Memang asik guruku itu.

Lain halnya dengan puisi viral di media sosial yang isinya menyatakan bahwa bundanya tidak pandai mengajar. Ia mengeluh dengan pembelajaran daring. Ia ingin segera bisa bersekolah seperti biasa.

Mengenai puisi ini, aku tidak tahu pasti apa benar anak bersangkutan yang menulis. Jika memang benar, aku angkat jempol untuknya. Kamu hebat, kamu berani mengemukakan pendapat. Tahu sendiri di antara anak seusiamu ada yang hanya sibuk dengan game saja, game online yang melalaikan aktivitas lainnya. Ibadah, makan, mandi, dan belajar menjadi terabaikan.

Baik teman, meski kondisi ramadhan tahun ini begini adanya, kita harus tetap semangat. Berdoa supaya hidup jadi lebih berkah. Jalani ramadhan tahun ini dengan segala keeklusifannya. Sampai jumpa. (Bersambung)

https://nubarnulisbareng.com/Cernak.Raono.bag.9/Ida Saidah/