RAONO (Cernak bag.7 Oleh Ida Saidah)

Nah sekarang, bagaimana dengan ibu kalian. Semoga saja baik seperti bundaku. Aamiin. O ya kalian pernah merasakan sakit gak? Kalau aku pernah, bukan sekali tapi beberapa kali. Bahkan pernah dirawat rumah sakit.

Aku waktu itu demam. Bunda langsung membawaku ke klinik Bugenvil. Oleh dokter aku dikasih obat penurun panas dan antibiotik.

Aku ingat betul nasihat dokter. Harus mau makan. Minum yang cukup, usahakan tidak kurang dari 8 gelas. Dan jangan lupa makan obat teratur. Antibiotik harus habis. Obat penurun panas kalau sudah reda pantasnya, hentikan.

Nasihat itu disampaikan ke bunda. Karena pendengaranku sangat bagus, jadi aku dapat mendengar semuanya. Tanpa diminta, aku mengangguk. Tanda setuju. Bunda tersenyum padaku dan memberi jempol.

Sepulang dari dokter, aku ingin segera minum obat itu. Bunda setuju dengan syarat, aku harus makan dulu. Ya akhirnya, aku menghabiskan satu piring nasi ditambah sayur manis.

Apa itu sayur manis? Sejenis kolak bukan, yang biasa disantap saat berbuka di bulan Ramadhan? Bukan. Bukan itu tetapi sayur yang berbahan dasar irisan wortel, potongan daun bayam, dan jagung yang disisir. Bumbunya sejumput garam, seiris gula merah, lengkuas, bawang merah dan putih, dan daun salam.

Sayur manis ini ada juga yang nyebut sayur bening. Namun aku lebih suka menyebutnya, ‘sayur sehat’. Jadi ketika ingin makan sayur ini, bilang ke bunda tolong dibuatkan sayur sehat. Kalian ingin tahu cara membuatnya? Mudah sekali. Aku pernah diajari bunda, hanya saja aku masih kurang pas saat memberi garam atau gula. Jadi rasanya aneh, tidak seenak buatan bunda. Kadang kemanisan atau sebaliknya, keasinan.

Akhirnya urusan menambahkan bumbu, bunda deh ahlinya. Eh lupa, mau ngajarin buatnya, malah ngelantur kemana. Ah kamu dasar Raono Corona. Loh ko jadi Raono Corona, Raono Makhuto harusnya.

Iya sekarang kan lagi musim Corona, jadi sedikit-sedikit nyebut Corona, seperti orang latah. Di mana-mana pada ngomongin Corona. Di istana negara, di provinsi, di kabupaten, di kecamatan, di desa.

Di tempat lain juga diomongkan seperti di televisi, radio, koran, dan media sosial lainnya. Semua profesi, bidang pekerjaan tak mau ketinggalan ngomongin Corona : politisi, dokter, guru, tukang sayur, tukang cilok, tukang cukur, bahkan adikku yang baru genap 7 tahun kenal betul dengan Corona, kalian juga kan? Pastinya.

Tuh kan jadi manjang. Sudah lah, sekarang langsung ke cara buat sayur sehat. Pertama siapkan semua bahan yang diperlukan (wortel 2, bayam satu ikat, jagung satu bonggol). Awas jangan ambil punya orang, beli ya.

Kedua, masukkan air sebanyak satu liter ke dalam panci. Didihkan bersama irisan bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan salam sampai menggelegak.

Ketiga, masukkan wortel, jagung, dan bayam terakhir. Kecilkan api. Tambahkan garam dan gula merah. Masukkan ke mangkok, taburi bawang goreng. Sayur siap untuk dinikmati. Muantap, enak benar. Jika mau sedikit rasa asam tambahkan irisan tomat satu buah ukuran sedang.

Mudah sekali cara membuatnya. Ayo dicoba. Murah-meriah namun menyehatkan. Buktinya aku tuh setelah makan dan minum obat, panasnya langsung turun. Sayur sehat ini cocok dinikmati di musim Corona, guna meningkatkan daya tahan tubuh. (Bersambung)

https://nubarnulisbareng.com/Cernak.raono.bag.7/Ida Saidah/