RAONO (Cernak bag. 5 Oleh Ida Saidah)

Maaf teman, plis maafkan aku. Aku telat datang di hadapan kalian. Tahu sendiri, aku kan beda dengan kalian. Aku sibuk. Asli sibuk.

Barusan aku bantu bunda dulu. Apa coba? Ngasuh adik. Ya mendekati. Tepatnya membantu merapikan mainan adik yang berantakan di lantai. Kasian bunda baru beres bersih-bersih, rumah dah kotor kembali.

Ngomongin tentang pekerjaan bunda sepertinya tidak kelar-kelar ya teman. Maksudnya bundaku yang tidak punya pembantu. Dari mulai bangun tidur dan mau tidur, ada saja yang wajib diselesaikan.

Pertama, masak-memasak untuk makan seisi rumah. Meski hanya goreng tempe tetap saja harus diproses. Mulai dari membeli, memotong, menggoreng hingga terhidang. Itu butuh waktu. Belum masak yang lainnya.

Kedua, mencuci pakaian lalu menjemur kalau ada matahari. Nah sambil menunggu kering lanjut ke membersihkan rumah. Menyapu dan mengepel. Wuih capenya bundaku.

Aku kasih bocoran ya ke kalian, bundaku nyucinya pakai tangan. Ye ileh masa pakai kaki. Ngaco. Bukan itu maksudku, bunda belum punya uang untuk membeli mesin cuci. Enak ya di rumah kalian ada mesin cuci dan pembantu. Itu seperti yang di sinetron tanah air. Selamat buat bunda kalian.

Ketiga, saat cucian itu sudah kering, diangkat dan disetrika. Lantas dimasukkan ke lemari. Aku enak saja tinggal pakai baju bersih, rapi, dan wangi.

Keempat, beres nyetrika rumah sudah berantakan lagi. Bunda siap siaga ambil sapu. Paling-paling bunda bilang, “Ayo bersihkan rumah sama-sama.”

Apalagi tu ya di musim Corona sekarang. Ampun seharian di rumah. Saat aku ingin ke luar, mau main gitu, tangan kanan bunda cekatan, langsung narik tanganku dan tangan kirinya digerak-gerakkan ke kiri ke kanan di depan mulutnya. Itu tandanya aku harus tetap di rumah.

Setelah jaraknya tidak terlalu jauh, ibu berujar pelan, “Di dalam saja, nanti ketemu orang asing, kita kan tidak tau kondisi kesehatan mereka. Itu kan yang Bu Guru pesankan?”

“Tapi kan Bun, aku kan bosan di rumah terus. Mendingan rumahnya besar. Aku hanya ingin main sepeda. Lha ini, sempit?” aku protes juga akhirnya

Bunda mengernyitkan dahinya. Menarikku duduk di sampingnya. Di pangkuan bunda siapa lagi kalau bukan adik bungsuku.

“Kamu harus tau sayang, yang bosan itu semua orang, bukan kamu saja. Di situasi seperti ini kita disuruh mempraktikkan kata sabar. Sabar untuk tetap di rumah. Terus kamu mau kena Corona lantas nular ke Bunda dan adik-adikmu? Tidak kan?”

Aku menggeleng. Bunda pun mengajak aku dan adikku untuk menyiapkan bahan membuat puding. Waktu duhur tiba, bunda menghentikan semua aktivitas lantas mengerjakan shalat duhur bersama. (Bersambung)


https://nubarnulisbareng.com/Cernak.raono.bag.5/IdaSaidah/