Ramadan Tanpa Munggahan

Munggahan adalah acara berkumpul bersama keluarga sehari atau dua hari sebelum bulan ramadan tiba. Biasanya acara ini diisi dengan makan bersama, berdoa bersama, saling memaafkan, dan ada juga yang berziarah ke makam keluarga.

Munggahan dilaksanakan di rumah orangtua atau orang yang dianggap lebih tua. Munggahan berasal dari bahasa sunda, munggah artinya naik, yang bermakna naik ke bulan yang suci atau tinggi derajatnya (Wikipedia).

Tujuan dari tradisi ini adalah untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk dalam setahun sebelumnya dan agar dimampukan menjalani bulan suci ramadan dengan lebih baik.

Namun, tahun ini ada yang berbeda. Acara munggahan yang sudah menjadi tradisi dan suatu moment yang ditunggu-tunggupun terpaksa ditiadakan. Hal ini karena pendemi covid-19 yang semakin banyak memakan korban.

Bagi sebagian keluarga biasanya ada yang mudik untuk mempersiapkan acara munggahan dengan orangtua dan keluarga besar mereka. Rencana untuk pulang kampung mau tidak mau ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.

Ada perasaan kecewa dan juga takut. Kecewa karena virus yang datang tanpa disangka-sangka mampu membuat seluruh perencanaan seakan terhenti. Takut karena bisa jadi yang berencana pulang kampung adalah pembawa (carier) virus korona terhadap orangtua dan sanak saudara.

Namun, setiap masalah tentu ada solusinya. Ada maksud tersembunyi dibalik peristiwa ini. Dan kita diajak untuk berpikir dari sudut pandang yang berbeda.

Kita melihat sekarang bahwa kecanggihan teknologi khususnya smartphone sangat membantu kita berkomunikasi dengan keluarga. Fitur yang tersedia didalam handphone tidak hanya untuk bertelepon saja, namun juga menelepon sambil melihat gambar (video call).

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan teknologi yang semakin hari semakin canggih mampu menyalurkan rasa kangen, tidak hanya video call dengan satu orang namun juga dengan beberapa orang.

Jangkauan jaringan internet hingga pelosok akan memudahkan semua pengguna smartphone untuk saling bertukar kabar. Tentu saja kuota internet harus selalu ada.

Maka larangan pemerintah untuk tidak mudik tidak lagi membuat hati nurani menggerutu. Saatnya untuk berdiam diri mendoakan agar pandemi ini segera berlalu dan seluruh keluarga dimanapun berada selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa.