Ramadan Karim

Ramadan Karim

Ramadan, bulan yang penuh berkah dan ampunan. Kedatangannya selalu membawa suasana hati yang berbeda, syahdu dan memberikan semangat untuk meningkatkan kebaikan. Kehadirannya menjadi pengingat diri agar tidak terlena dengan indahnya dunia. Ibadah puasa yang dilakukan diharapkan akan menambah iman dan takwa.

Kaum muslimin di penjuru dunia akan menyambut bulan mulia ini dengan suka cita. Mensucikan niat untuk menjalankan puasa. Saling berlomba menambah sedekah, amalan yang baik, tilawah alquran, dan meningkatkan keimanan.

Di tempat tinggal saya, Indramayu, Jawa Barat, ada beberapa kebiasaan rutin yang dilakukan warga di bulan Ramadan. Sehari sebelum berpuasa mereka memasak lauk yang enak dalam jumlah lebih dari biasanya. Mereka mengunjungi orangtua dan sanak keluarga, bersilaturahim dan berbagi makanan maupun masakan.

Ada pula rutinitas dini hari. Menjelang waktu sahur, akan terdengar bunyi bedug yang ditabuh kencang dan berirama oleh beberapa remaja dan pemuda kampung. Mereka membawa bedug berkeliling untuk membangunkan warga agar bersiap sahur.

Selanjutnya dari pengeras suara mesjid akan terdengar himbauan yang membangunkan warga, sambil terus mengingatkan waktu hingga saat imsak tiba.

“Bangun…bangun, sahur…sahur. Ibu-ibu, ayo segera masak. Bapak-bapak, ayo bangun. Bagi yang punya anak segera bangunkan anaknya. Sahur…sahur. Waktu sudah menunjukkan jam 4 kurang 15 menit. Waktu imsak tinggal 10 menit lagi.” Begitulah kira-kira yang terdengar dari pengeras suara mesjid.

Kemudian, di pertengahan Ramadan hingga menjelang lebaran, akan ada budaya obrog. Obrog ini dimainkan oleh 3 sampai 10 orang yang memakai topeng dan kostum tertentu. Bisa kostum badut, kostum wayang, kostum menari, atau hanya ditutupi sarung saja dari atas kepala, seperti ninja. Ada sebuah bedug yang mengiringi aksi mereka.

Pertunjukan yang dilakukan kelompok obrog ini bermacam-macam. Ada yang menari, sekedar joget sembarangan, ataupun mempertunjukkan kemahiran menabuh bedug. Hampir mirip dengan pertunjukan topeng monyet. Tapi ini manusia, ya, tidak ada hewannya.

Saat bedug ditabuh, orang-orang akan berkerumun menonton. Di tengah pertunjukan, satu atau dua orang dari kelompok obrog tersebut akan berkeliling sambil menyodorkan wadah guna menampung uang sumbangan sukarela dari penonton.

Satu pekan menjelang lebaran, warga akan saling berbagi masakan. asi dan lauknya akan dibagikan kepada para tetangga, tak ada satu rumahpun yang terlewat. Jika dalam sehari ada tiga rumah yang berbagi, maka masing-masing warga akan mendapatkan 3 porsi makan.

Itulah beberapa rutinitas bulan Ramadan di kampung saya. Ramadan karim, Ramadan yang penuh kemuliaan. Semoga kita akan mendapatkan kemuliaan di bulan penuh berkah ini. Aamiin.

WCRumedia/yuyunkho