Raih Asa Yang Sirna

Bagian I

Wajahnya kuyu lemas diam membisu, menunggu lampu merah diam beradu tangan kecilnya menggenggam sebuah alat sederhana yang terbuat dari kayu dengan ujungnya ada lempengan lempengan bekas kaleng yang dipipihkan, suaranya khas bila digoyang goyangkan, cring…cring…cring!

Panas yang menyengat tidak dihiraukan, sesekali sambil menyeka keringat dia bergumam

“ya Alloh, mohon berikan hambamu Rizki lebih untuk hari ini, agar besok saya bisa bayar uang ujian sekolah, saya pengen lulus meneruskan di SMU.”

Rio seorang anak yang tangguh, pantang menyerah, lugu dan ikhlas. Kehidupan ekonomi keluarganya yang sangat kekurangan tidak membuat dirinya berputus asa, ibu yang melahirkannya sedang terganggu kejiwaannya depresi lantaran suaminya sangat kasar dan temperamental mempunyai hobi mabuk judi juga kerap membawa perempuan nakal kerumah.

Bapak Rio seorang pengangguran, sedangkan kakaknya sudah lama drop out dari sekolah karena tidak punya biaya, tapi justru lingkungan dan pergaulan bebas sudah menyeretnya menjadi bradalan. Preman pasar!

Dua kali terserempet mobil dan hampir mengalami tabrak lari tak menghalangi niatnya untuk mengais rejeki semampunya. Dan seringkali terjaring razia satpol pp tak pernah menyurutkan tekadnya mengejar rupiah. Bocah usia 11 tahun itu bergelut dengan kerasnya kehidupan tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya yang sewaktu waktu bisa terancam.

Dibawah kolong jembatan tol di lintasan lampu merah Rio melantunkan bait lagu lagu sambil memanjatkan doa dalam hatinya. Terselip cita cita besar dalam semangatnya menjadi seorang tentara yang gagah agar bisa membahagiakan ibu kandungnya mengentaskan dari kemiskinan yang mendera.
.
.

Enam tahun pun berlalu,

Rio kecil kini telah tumbuh remaja, semakin semangat merasa dekat menggapai cita cita. Hari itu sedang pengumuman kelulusan SMU berlangsung. Berdebar hatinya menerima amplop kelulusan dag…dig…dug…penuh kecemasan.

‘Ach, lebih baik amplop ini segera aku bawa pulang, biar kubuka di rumah saja, semoga aku lulus, ya Alloh bantu aku untuk meraih cita citaku demi ibu.’

“Ibu, alhamdulillah Rio lulus dengan hasil yang memuaskan Bu.”
digenggamnya tangan wanita separuh baya itu dengan penuh kasih. Dicium kening sang ibu dengan rasa suka cita yang tak tergambarkan.

“Ibu sudah makan?”
Tanya Rio kepada ibundanya, tetapi perempuan itu tidak menjawab. Diam tak bereaksi, sesekali dia berbicara sendiri dengan intonasi yg datar.

“Sudah..sudah…,ampun. Sakit…sakittt..pukul..tapi jangan pukuli aku lagi, bawa perempuan itu,sakit…ampun..”
sang ibu mulai meracau. Mata Rio menjadi berkaca kaca.

“Ibu…rio berjanji akan menjadi matahari bagi ibu, Rio akan bawa ibu pergi jauh dari kamar gelap yang mengurung ibu selama ini, jauh dari siksaan dan pukulan bapak. Rio akan merawat ibu, akan membelikan makanan yang enak enak, membelikan baju baju bagus dan mengajak jalan jalan ibu, bersabar ya bu…

Hari sudah sore, sepertinya bapak tidak memberikan jatah makan ibu, pasti ibu lapar. Tadi sepulang dari sekolah Rio sempat ngamen sebentar, Alhamdulillah dapat uang 10 ribu, Rio segera pergi kewarung beli nasi bungkus sengaja khusus ibu. Lauknya enak lho bu..ada telur dadar sama oseng tempe kesukaan ibu, yuk kita makan bersama bu.”
Rio mulai membuka bungkusan nasinya,

“Bismillahirrohmannirrohim”
Segera disuapkannya nasi itu perlahan ke mulut ibunya, tampak seperti kelaparan perempuan itu lahap sekali makannya. Sesuap untuk ibunya sesuap untuk Rio, berganti gantian hingga nasi itu habis tak tersisa.

“Alhamdulillah, ibu sudah selesai makan. Rio mau pamit pergi sebentar ke rumah abah Ali, beliau pernah janji kalau saya lulus SMU nanti akan dibantu untuk ikut pendaftaran calon tentara. Doakan Rio selalu ya bu.”

Kembali dikecup kening ibunya, sambil bersalaman Rio pun berlalu.

Sore itu cuaca nampak cerah sekali, padahal sudah pukul 5 sore tapi suasana masih seperti jam 2 siang, begitu terang benderang, seakan akan matahari enggan bergeser digantikan cakrawala senja.

“Rioooo…!”

“Hai apa kabarmu jim…wah wah..sudah hampir 2th lama sekali aku gak pernah lihat kamu, sekarang sudah berubah jadi keren, pakai motor bagus lagi, motor ninja rek, yo mesti keren…”

“Iya yo..rejeki hasil kerja keras, lha ini kamu mau kemana?”

“Mau ke rumah abah Ali, Jim. Ada keperluan.”

“Wah kebetulan nie yo, aku juga mau pergi kearah sana. Mau aku antar? Tapi temani aku dulu, Aku mau nemuin temanku di warung kopi depan gang abah Ali. Mau menjemput rejeki sudah keburu ditunggu nie.”

“Yo wislah, sepakat aja asal jangan lama lama ya”

“Sipp, yuk tak bonceng pakai motor ninjaku, pasti kamu suka.”

Tak beberapa lama dua remaja itupun berboncengan dan melesat pergi
Dan diwarung kopi itu…

“Angkat tangannya! Tidak usah melawan, kamu ini memang residifis kambuhan. Dua tahun dipenjara malah semakin banyak koneksinya.”

Seorang laki laki berusia sekitar 50tahunan, berkulit hitam berkumis tebal dengan rambut panjang beruban dikuncir belakang, memakai jaket kulit lusuh, rupanya dia seorang polisi yang menyamar memakai baju preman, pria itu sedang serius menggeledah jimmy, wajah Rio pucat nampak sangat ketakutan, bingung.

“ini lagi bocah, wajahmu nampak polos tapi kamu juga ikut ikutan jadi pengedar nakoba, wajah baru nie pak kelihatannya,”
kata teman bapak kumis yang satunya lagi, yang tak kalah sangar penampilannya.

“Ada apa ini pak?”
Rio berusaha bertanya untuk memperjelas keadaan, jantungnya berdegup kencang.

“Jangan belagak bodoh, ayo kamu juga ikut kami ke kantor polisi.”

“Tapi pak ada apa dengan kesalahan saya, saya tidak tahu apa apa pak, sungguh.”

“Hei, nama kamu siapa?”

“Rio pak.”

“Hmmm… Temanmu ini jimmy, residivis yang sudah lama jadi target pencarian polisi karena dia adalah pengedar shabu, narkotika dan obat obatan terlarang, kebetulan kami tadi menyamar sebagai pelanggan barunya, dan akhirnya kena juga.”

Jleb… bagaikan disambar petir, luluh lantak seperti tulang kehilangan otot bayu, lemas seketika. Bingung, harap cemas menangis dan pasrah.
“Ibu…!”
Sepatah kata yang keluar dari bibir rio. Dengan menahan tangisnya.
.
.

Bersambung

LellyHapsari/RumahMedia