Raih Asa Yang Sirna

Bagian III

Berjalan kearah beberapa rumah, Rio mengetuk sebuah pintu.

“Assalamualaikum, kulonuwun…!”

“Waalaikum salam, siapa ya? Masuk,”

terdengar suara sahutan dari dalam rumah.

“Budhe, ini saya budhe, Rio.”
Kemudian keluarlah sesosok wanita yang wajahnya mirip ibu kandungnya, budhe lasmi adalah kakak ibu kandung Rio, dengan setengah terkaget wanita itu berkata.

“Lho…ternyata kowe to le, dari mana saja kamu selama ini, kok hampir setahun lebih kamu gak ada kabar berita, apa kamu sudah sukses jadi tentara?”

“Ibu dimana budhe?”
Dengan berhati hati dan bingung budhe Lasmi menjelaskan akhirnya.

“Ibumu sudah meninggal 3bulan yang lalu le, dan sebelum ibumu meninggal bapakmu sudah menikah lagi dengan perempuan gak bener dari kampung sebelah, masmu Rudi juga gak pernah pulang sama sekali, jadi ibumu terlantar gak ada yang ngurusi, jadi kadang kadang budhe sama tetangga kiri kanan yang berusaha merawat ibumu le. Kamu juga kemana saja selama ini? Ibumu kadang jerit jerit panggil panggil nama kamu yo.”

Terdiam dalam hancur, Rio tak sanggup berkata apa apa, sebungkus hadiah dari pak sumarto terjatuh ketanah. Berusaha menguasai diri tapi isaknya tak terbendung, Rio lunglai tertunduk tak berdaya, badannya terguncang guncang tangisnya pun pecah,

“ibuuu….!”

“Astaghfirullah, sudah le…sudah, tenangkan dirimu dulu, sing sabar, tawakal marang sing kuoso. Mungkin ini lebih baik bagi ibumu, ketimbang hidup menderita tersiksa lahir batin. Ibumu kuwi wong apik le.., lebih baik hidup disyurga ketimbang hidup didunia sengsara. Sudah, lebih baik didoakan saja semoga ibumu bahagia disana.”

“Ibu dimakamkan dimana budhe?”
serak suara Rio parau terdengar.

“Dimakam kulon, tempat embah kakung dan mbah putrimu disemayamkan, disebelah kirinya adalah makam ibumu,le.”

Suara budhe lasmi pun tak kalah bergetar menahan tangis, teringat kakaknya yang sudah meninggal.

“Budhe, Rio pamit mau ke makam ibu, assalamualaikum.”

Dengan langkah gontai, hati yang hampa rasa tercabik penyesalan yang tak terhingga, gemuruh didadanya merangkai banyak kata, andai saja…andai saja aku begini…andai saja aku begitu… Ya Alloh, mengapa harus seperti ini akhirnya?
Hari hampir beranjak sore.

Didepan pusara sang ibu Rio bersimpuh, memeluk gundukkan tanahnya yang telah mengering seolah membayangkan itu adalah tubuh sang ibu, penyesalan yang dirasakannya tak terbayangkan, dikecupnya lembut batu nisan itu seolah olah ia mengecup kening lembut kening sang ibu

“Ibuku sayang, ini Rio anakmu, ma’afkan Rio yang telah gagal menunaikan cita citaku, Rio pergi tak memberi kabar siapapun, karena Rio tak mau ibu mendengar bahwa anakmu dipenjara, sebenarnya sudah beberapa kali kutulis surat untuk ibu tapi saya tak sanggup untuk mengirimnya, karena Rio tahu kondisi ibu.
Ibu, ini Rio anakmu yang kini sudah bebas dari penjara, menemui ibu dengan membawa matahari digenggamanku, Rio ingin menepati janji bu, tinggal bersama ibu, merawat ibu, membelikan makanan yang enak enak kesukaan ibu, membelikan baju baju dan kerudung agar ibu tampak cantik, kemudian mengajak ibu jalan jalan, membawa pergi ibu ketempat yang jauh dari kamar gelap itu, tetapi mengapa ibu tak bersabar…

Ibu tak bersabar menanti kedatangan Rio. Lalu matahari yang kugenggam ini untuk siapalagi bu? Lihatlah apa yang Rio bawa untuk ibu. Ada hadiah baju baru untuk ibu, dan nasi campur kesukaan ibu, biasanya Rio suapin ibu dan kita makan bersama.
Ya Alloh, engkau maha pengabul doa doaku, pernah ku meminta padaMu agar jagalah ibuku selalu. Dan engkau menepati janjiMu.”

Sambil menatap birunya awan yang hampir memudar, Rio membacakan al fatehah untuk almarhumah dan sebaris doa untuk ibu tercinta.

“Rio pamit bu, Rio akan pergi ke sumatra, ikut bekerja disana. Sambil melupakan segala kenangan pahit ini, kuburan ibu boleh hilang ditumpuk tumpuk oleh jazad yang lain, tetapi sosok ibu tak tergantikan yang lain, carilah anakmu ini disyurga jika ibu tak menemukan Rio disana, agar Rio bisa bertemu dan berkumpul bersama ibu lagi disana, Rio menyanyangi ibu.”

Sekali lagi dikecup pelan batu nisan sederhana milik ibunya. Kemudian meletakkan kado yang ia bawa, dengan sepucuk surat yang pernah ditulisnya semasa dipenjara yang tak pernah terkirim kan sebelumnya

Assalamualaikum ibu,
bagaimana kabar ibu? Semoga baik baik saja. Mohon maaf Rio untuk sementara waktu belum bisa pulang menjumpai ibu. Rio sedang dalam menempuh ujian tempaan hidup kaum miskin yang lemah, Rio harus melewati banyak kesabaran meski lelah, semuanya akan terlupakan bila membayangkan senyum ibu,

Ibu Rio kangen sama ibu,
Semoga setelah ujian ini berakhir Rio bisa segera memeluk ibu, dan Rio akan bekerja yang lebih baik lagi dengan ijazah yang sudah saya dapatkan. Rio akan bekerja keras agar bisa merawat ibu

Peluk cium dari anakmu, yang merindukan teduhnya kasih sayangmu. Bersabar dengan lambatnya waktu melaju kuyakini kita akan bertemu.

Anakmu
R i o

Selesai

LellyHapsari/RumahMedia