Pulau Lombok, Pulau Pedasku

Pulau Lombok, Pulau Pedasku


Lombok, cabe yang berukuran kecil dan terasa pedas. Nama memang identik dengan ciri khas yang ada di Pulau ini. Masyarakat Lombok, hampir semua menyukai makanan pedas. Hampir semua masakan pedas, dan tak lengkap bila makan tanpa sambal.


Salah satu makanan khas Pulau ini adalah pelecing kangkung. Sayur kangkung yang tumbuh disini berbeda dengan daerah lain, yang membuat cita rasa berbeda. Pelecing kangkung ini disajikan dengan sambal mentah. Mungkin, sebagian orang tidak terbiasa makan dengan sambal mentah. Namun, bagi masyarakat lombok, ini adalah makanan andalan dan merupakan menu wajib ketika bulan Ramadhan. Hambar rasanya jika berbuka puasa tanpa adanya pelecing.


Pedas dan religius merupakan kata kunci untuk menemukan Pulauku. Lombok, pulau kecil yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat juga mempunyai julukan pulau seribu masjid. Jika berkunjung ke pulauku, para wisatawan tidak akan pernah kesulitan menemukan masjid. Banyak masjid di bangun, dengan jarak yang dekat.


Itulah keunikan pulauku. Pulau yang akhir-akhir ini banyak disebut oleh orang karena akan dibangun sirkuit moto GP yang bertempat di Kute, Lombok Tengah.
Kute, Lombok Tengah, merupakan kawasan pantai yang cantik nan eksotik. Pantai berpasir putih berbulir, yang berkilau diterpa cahaya matahari.


Memandangi pasir putih, mendengar deburan ombak, merasakan hangatnya mentari dengan semilir angin yang menyibakkan rambut membuat pantai menjadi tempat favorit untuk berwisata. Tempat merajut kembali untaian benang-benang halus yang mulai terurai oleh kepenatan beraktivitas. Tempat kembali duduk bersama keluarga yang terpencar oleh kesibukan.


Setahun yang lalu, Lombok ditimpa bencana gempa. Gempa sebesar 7 SR itu telah banyak memakan korban. Banyak rumah dan fasilitas umum yang rusak. Sontak Pulau seribu masjid itu berubah menjadi Pulau seribu tenda. Banyak tenda-tenda pengungsian yang dibangun masyarakat di tanah lapang. Trauma menghantaui kami. Selalu ada rasa panik, cemas, dan takut setiap ingin menutup mata. Alhasil, kami selalu terjaga.


Setahun yang lalu, dan kamipun mulai bangkit lagi. Lombokku mulai tersenyum kembali. Layaknya kondisi hari ini, wabah baru menyerang bukan hanya Pulau Lombok ataupun Indonesia. Namun, seluruh dunia berjibaku dengan wabah ini.
Badai pasti berlalu, wabah ini semoga menjadi ajang untuk kita bermuhasabah diri atas kekeliruan yang telah lalu. Tetap berpositif thingking, tetap semangat dan, tetap berdoa. Dunia, Indonesian dan khususnya Pulauku, Pulau pedasku akan mampu melewati ini semua.

Rumahmediagrup/chomsiatin