Pujian tidak penting

Menurut kamu seberapa penting sebuah pujian?

Pasti pada jawab penting banget kan.
Sebab pujian itu dapat memberikan motivasi kepada orang yang dipujinya.

Hmmm benar banget.
Pujian itu adalah sesuatu ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa tersanjung. Bahkan terkadang kita sebagai pribadi juga perlu memuji diri sendiri, untuk meningkatkam rasa percaya diri.

Tapi ada lho pujian yang tidak penting
Malah kalau menurut saya pujiannya salah.
Pernah menemukan fenomena ini,?

Orang tua yang begitu mencintai anaknya dan menyadari jika pujian akan membangkitkan rasa percaya diri si anak, akan membanjiri anak dengan pujian.

” Anak ibu pintar sekali”
” Ibu tahu kamu itu pintar kok”
” Kakak memang hebat”
“Ibu bangga sama kepintaran kamu”

Kalimat diatas termasuk pujian bukan?

Hmmm jika kita sepakat itu pujian, maka ini masuk pada kategori pujian yang nggak penting.
Bisa-bisa berdampak menyesatkan.

Cobo deh dibayangkan.
Seorang anak yang dipuji pintar akan melakukan apa?
Benar banget
Karena pujian itu memotivasi, si anak akan menunjukan prestasi bagus, agar kata-kata pintar tetap jadi miliknya.
Bagaimana kalau tiba-tiba anak tak mampu mengerjakan soal ujian, atau PR yang diberikan.
Kira-kira apa yang terjadi?

Pada banyak kasus, akhirnya anak menghalalkan cara yang salah. Menyontek dan melakukan plagiat.
Hanya agar pujian pintar yang diberikan tidak lepas darinya.
Sebuah dampak buruk dari pujian.

So, memberi pujian tentu perlu. Namun cek lagi pilihan kata untuk pujian.
Alih-alih memuji kepintaran, lebih baik pujilah usaha yang dilakukannya.

“Wow… nilai yang bagus, belajarnya ngga sia-sia ya Dek”

” Hmmm… terus berjuang Bang. Pasti hasilnya luar biasa.”

“Anak-anak ibu semuanya rajin”

Fokuskan pujian pada usaha atau proses yang dilakukan, serta minimalkan pujian yang berhubungan dengan fisik anak.

Lho… berarti ngak boleh bilang anaknya cantik dong.

Boleh bunda, pujilah proses agar cantik, seperti;

“Kalau kakak rajin bersihin muka, kulitnya akan terawat”

Sekali lagi fokus pujian adalah pada proses, bukan hasil. Pujian penting, namun lebih penting lagi cara menyampaikannya.

Jangan salah kaprah.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita