Puisi Wahyu Hidayat, Sahur Pertama yang Ganjil

Sahur Pertama yang Ganjil

1.
Pagi membuka mataku
sehabis pejam dan
tatapan ini serupa lampu
yang diapit dua malam
Sesekali mesti
diusap biar kantuk
lekas lari sejauh pergi

Langkahku menuntun
ke meja makan itu,
tapi aku sedikit cengang
lantaran sahur pertama ini
seperti ada yang ganjil
Barangkali karena
nenek sudah tak mengisi
kursi panjang di dekat
lemari kayu itu
atau mungkin sebab hidangan
yang lain, tak seperti
sahur pertama sewaktu dulu
yang membikin perutku
lekas digedor pintu lapar

2.
Tapi tak mengapa
nenek memang waktunya
untuk berpulang
Itu sudah takdir dari Tuhan
Dan kalaupun hidangan
tak semenarik cinta,
aku tetap lahap makan
masakan ibu

Ramadan kali ini jelas
jauh berbeda
Segalanya seperti
kurang berharga,
terlebih adanya korona
Orang-orang cuma
gigit jari atas ulah sepi
Tak bisa sahur dan berbuka
bersama keluarga
atau mengulur tatapan
yang bening

3.
Sebagai hamba,
aku mesti bersyukur
Sahur pertama
masih bersama keluarga
Sehidang senyum ayah
dan masakan
buatan ibu sudah membikin
mulutku melafalkan
sejumlah hamdallah

28.04.2020
#Rumahmediagrup/Awiyazayan
#Rumahmediagrup
#Rumedia
#Nubar
#Awiyazayan
#Puisi
#Sajak