Puisi Wahyu Hidayat, Kepada Reka Sihombing

KEPADA REKA SIHOMBING

kita ingat sewaktu dulu
di kota jauh sana,
ada percakapan yang
dingin. di langit
ada rona abu-kelabu
menikam warna ragu

*
aku mengenalmu
sebagai gadis
yang pandai menyimpan
ketidakpercayaan; dan
kamu mengenalku sebagai
bujang berselimut genang

*
kini kita dijeda
kejauhan tempuh.
Aceh amat jauh
antara Lampung–Aceh
sudah mampu
membikin mabuk
berkali-kali

/0/
catat pertemuan kita
sebagai mula
yang bakal terulang.
semua tercipta
karena halaman takdir
Tuhan

*
jadikan doa sebagai
pedang dan keris–
jangan lupa salat dan
mengaji di mihrab

*
Reka,
kita ini cuma tamu
sewaktu-waktu
bisa saja pulang,
beringsut ke makam

/1/
sekarang bumi
sedang sakit
pun hatiku ini tak lupa
sedikit sesak
lantaran tanganku
belum bisa berbuat apa-apa
apalagi aku lelaki
yang bakal
jadi peta untuk rumah
dan langkah
untuk istri dan anakku

*
dan kamu bakal
jadi seorang istri.
belajarlah mencintai
kurangnya lelakimu,
lalu jadikan
lebihnya sebagai
hadiah terbaik dari Tuhan

/2/
aku cuma mau bilang,
“semoga kelak
kita dipertemukan
oleh Tuhan. pun dengan
kawan lain sewaktu
di Purwokerto dulu.
aamiin.”

Lampung, 08.04.2020

#Rumahmediagrup #Nubarjatim #Nulisbareng #Awiyazayan

#Puisi #Sajak