Puisi Wahyu Hidayat, Istidraj

Istidraj

seseorang pergi ke gerbang
membawa segala punya,
tapi ia tak pernah mengerti
mana senyum, mana pula
ciuman hujan.
ia lupa bagaimana sujud dan
mengaji di mihrab—
amnesia dari bulan yang suci
sampai jengkal waktu
makin jengkel dan melempar
tatapan yang memar

seseorang begitu risau
di beranda dan
melihat hati yang sekarat
di dada sendiri
pun gelagat terlampau Firaun,
tapi ia tak kunjung mengerti

ia cuma tahu Tuhan amat
menyayanginya, meski perutnya
menyimpan riba dan
gagal mengukur syukur.
kalaupun ia pulang sekarang
ia benar-benar tertipu
dan malaikat lekas berbisik,
“selamat bermakam, Nak.
tunggu panas bara
dan tungku perapian Tuhan
memberimu hadiah paling sulut!”

23—27.04.2020

rumahmediagrup/awiyazayan