Puisi Wahyu Hidayat

Kita Serupa Singkat Pagi

serupa pagi, embun-embun mengayuh angin
lewat riang rerumputan kita tuju
bening muka pagi selepas menikmati
riuh subuh dan zikir lirih. –pagi bagai
kepergian lelap gelap: peta
menemui benderang. lewat timur terang dan
aneka muka cahaya, kita nikmati
seriseri pagi; rengek anak-anak kecil minta
susu ibu. ah, kita semisal kabut pagi

hendak menempuh jalanan sepi
lalu disilakan pergi yang pulang. maka umur
seperti perjumpaan pagi
dengan sekawanan embun: terlalu singkat
untuk dimaknai. sudah semestinya
kita nikmati sujud dan meminta ampun
saban hari. –kita tetap gigil pagi,
digoda dingin lewat
nyeri angin berembus lengus

pagi mengidap ricuh pelangi di kerut langit
laksana ending menyekap alur
yang berlesung di wajah langit adalah
seleraku. ah, wajah muka barisan warna

selaras tenang lengang bagai jalan maut
tubuh dan ruh merangkai kepergian;
kita tetap pagi si pemilik
pelangi di kebiruan langit. kiranya pagi
adalah kehidupan semasa hidup,

sesingkat detik mengalir gagal menuju
resah menit atau pergantian jam
pagi sulit diterka dan dibaca-baca
padahal pagi adalah waktu menempuh
panjang jalan. umur kita adalah
singkat pagi: gagal mencicip terang,

lantas apa yang hendak
kita banggakan sewaktu pagi
selain bekal menuju kasih-Nya?

2019/2020

Rumahmediagrup/awiyazayan