Puisi Wahyu Hidayat 3

Ihwal Hujan dan Cium

cuma hujan yang sewaktu-waktu
jelma tawa dan tangis,
sentuhan lahan, berikut kenangan

sesekali kita tatap langit
yang amat masai dan gosong,
lalu hujan menjatuhkan
sakit, sejarah, dan kuntum senyum

–ini hari cepat lari
jam menggerakkan matahari,
pun langit menikam
dirinya sendiri, seperti bakal runtuh

apakah sekadar hujan?
atau ujian dan harapan dari Tuhan?

hujan adalah pohon-pohon hijau
lebat dedaun, dan berbuah cium;
hujan adalah masalalu
yang pecah oleh musim;
hujan adalah pelajaran hidup
: jatuh untuk tumbuh!

kita pun saling bertatapan
menerka tiap yang jatuh–

biarlah-biar ini fitrah
menukik ke luas dada kekasih
sebagai cinta yang benar-benar cium!

kita pahami
musim yang yatim.
cuma hujan dan tangis
yang betemu dan bertamu

lalu, hujan berjalan,
sedang aku bermimpi
dipenggal derasnya!

2019/2020