Puisi Esai : Perawan Tua

Puisi Esai : Perawan Tua

Karya : Walidah Ariyani

Seorang gadis berambut sebahu, sedikit keriting menggantung.
Termangu di sudut kamar.
Matanya sembab, hidung memerah.

Isaknya masih jelas terdengar.
Mulutnya komat kamit entah apa yang terucap.
Kakinya melipat, dagunya bertumpu pada lutut yang gemetar.
Tangannya memeluk kaki hingga kaku.

Tak ada yang peduli padanya.
Malam itu, kala purnama bersinar terang di luar sana.
Rumahnya mendadak gerhana.
Tak ada lagi cahaya.
Pertengkaran itu meredupkan semua.
Maki itu memadamkannya.
Sumpah itu menggulitakan semua.
Amukan itu menghancurkan apa saja.

Gadis itu duduk di sudut kamar.
Memangku dagu pada lutut yang gemetar.
Tak ada yang peduli padanya.

Lihatlah segala ego yang berkobar!
Serapah dan caci menyulut api kian besar.

Tak ada lagi kata manis.
Tak ada lagi cinta.
Tak ada lagi sayang.
Semua menjelma benci tak berujung.

Gadis itu masih termangu di sudut kamar.
Menerka bait-bait jawab dari ribuan tanyanya.

“Mengapa ayah dan ibu bertengkar?”

“Mengapa ayah mengamuk dan memukul ibu tanpa ampun?”

“Mengapa ibu menyumpah serapah ayah?”

“Mengapa mereka tak berbaikan? Seperti aku dan Aish teman sebangku.”

“Ayah ibu kata kalian tak boleh marah-marah.  Kata kalian tak boleh bertengkar. Kata kalian jika salah harus meminta maaf.”

“Aku tak tahu siapa di antara ayah dan ibu yang salah. Tapi, tak bisakah kalian berbaikan? Berjabat tangan dan ucapkan ‘maaf’.”

Gadis itu terus bercengkerama dengan degup jantungnya.
Ia takut.
Ia panik.
Tapi, bibirnya kelu, membisu.
Lidah kaku.

Hanya mata yang tak mampu terpejam.
Telinga yang terus mendengar.
Menghadirkan gelombang rasa yang tak pernah ia pahami.
Dalam cinta tersimpan benci.
Benarkah?

Setidaknya itu yang ia pahami.
Selama sepuluh tahun bersama mereka–orangtuanya.
Cinta yang ia kira abadi,  nyatanya berganti.

Apakah mereka menanam cinta untuk membuahkan benci?

Gadis berambut sebahu duduk termangu di sudut kamar.
Tubuhnya gemetar.
Tak ada yang peduli.
Bahkan mereka yang darahnya ada padanya.
Dunia menjadi sempit dan gelap. Pengap.

Bayangan 20 tahun lalu tak pernah sirna.
Gadis itu menjelma wanita cantik nan rupawan.
Sejak remaja ia menjadi rebutan kaum adam.
Namun, tak ada yang bisa mencuri hatinya.
Hingga ia dikatakan ‘perawan tua’.

Bujuk rayu sia-sia.
Ilmu agama dan nasihat memantulkan bayang.
Ia hanya berkata, “berlakukah nasihat dan ilmu agama pada hatiku yang beku?”

Berpuluh tahun hati itu mengeras.
Kehilangan sinar cinta.
Kehangatan tak lagi membinar di sana.
Rasanya terpenjara pada kutub yang tak tergapai oleh asa.
Bahkan untuk dirinya sendiri.

Masa lalu.
Itulah mulanya.
Jiwanya yang daif harus menelan pil pahit tanpa bisa ditolak.
Semua indera harus takluk pada satu kata yang mereka sebut ‘takdir’.

Siapa yang hendak menjadi perawan tua?
Bahkan di saat tak ada satu lelaki pun yang berminat.
Apalagi ia.
Bunga incaran sang kumbang.

Siapa yang bersalah?
Dirinyakah yang terus menolak pinangan atau mereka yang membiarkan ia menjadi saksi.
Bahwa cinta sejati itu tak ada.
Bahkan cinta pun mampu melahirkan benci.

Apa mereka peduli?
Mereka yang mulutnya begitu nyinyir memberinya gelar ‘perawan tua’ padanya.
Apa mereka tahu? Ada hati yang begitu dingin.
Bahkan dirinya sendiri tak mampu melawan kebekuannya.

Apa mereka peduli?
Pada dirinya yang berjuang puluhan tahun.
Hanya sekadar tuk melupakan satu kisah.
Tragedi di malam itu.
Saat puncak amukan merenggut napas terakhir ibunya.

Apa mereka tahu?
Bagaimana rasanya sesak dan takut yang tersembunyi di tubuh mungilnya?
Menggigil ngilu hingga ratusan malam lamanya. Sendiri.

Mereka yang menyebut dirinya lelaki.
Apakah tahu bahwa begitu mustahil menebus waktu yang telah terbuang?
Bahkan jika waktu bisa diputar balik.
Ia berharap tak perlu hidup.
Jika hanya untuk menjadi saksi, pada takdir yang melenyapkan semua masa depannya.

“Ayah… ibu….”
Inikah masa depan yang kalian persiapkan untukku?
Rasanya teramat berat.
Bersusah payah kupikul pada bahu harapan.

“Ayah… ibu….”
Inikah hasil dari ikrar pernikahan?
Membiarkanku terkapar pada kubang sepi di jurang paling dalam.

“Ayah… ibu….”
Jika aku boleh meminta kepada Tuhan.
Aku ingin punya satu pilihan.
Pilihan untuk tak pernah ada dalam darah kalian.

Dan kalian tahu…
Itu tak mungkin.

Dengan segala rasa kuharus menerima bahkan hingga mereka menyebutku ‘perawan tua’.

Longkali, 7 Agustus 2019

Repost from facebook Walidah Ariyani

nubarnulisbareng/walidahariyani