Puisi Esai : Di mana Surgaku

Karya : Walidah Ariyani

Ayahku membangun gubuk bambu di desa.
Daerah yang dikelilingi perbukitan dan kebun karet.
Jika malam tiba, dingin menusuk sendi-sendi.
Tapi, kami warga desa sudah biasa.

Pagi buta, bahkan mentari masih enggan bercengkerama.
Aku dan ayah terseok menyusuri gelap.
Berpandukan bintang dan rembulan jika ada.
Membawa beberapa ember juga alat sadap dan sebotol air minum.

Sesekali semut api hitam marah pada kaki-kaki kami.
Sandal jepit mengganggu jalan mereka.
Tak satu dua ekor, tak sekali dua kali.
Denyutnya tak menghalangi langkah kami.
Dan aku hanya sanggup meringis.

Terkadang aku berteriak, “Ayah tunggu!”
Langkahku begitu kecil menyejajari kaki panjangnya.
Kadang berlari adalah pilihan satu-satunya.
Ini bukan piknik, bukan petualangan.
Tapi, mengejar tiap tetes pundi dari batang per batang karet.
Kalau mentari telah bersinar, karet itu pun menjadi pelit akan lateksnya.
Bergegas dan acuh demi waktu adalah pilihan.

Kaki kecilku tak tampak mungil.
Tanganku tak tampak halus.
Ada kapalan di sana sini.
Bermain menjadi barang mahal di sore hari.
Sekolah adalah mimpi.
Asa menggelayut pada bangku-bangku berjejer di kelas.
Pada papan tulis, buku, dan pena.
Membaca menjadi harapan teramat sulit.

Perjalanan berkilo-kilo kutempuh setiap hari. Tak ada yang menjagaku di rumah.
Terpaksa ayah memboyongku dalam tapak-tapak beratnya.

Hingga suatu hari, tawaran dari sepupuku yang lebih tua mencerahkan jalan.
Aku bisa bersekolah pagi, setelah itu tinggal bersama sepupuku di rumahnya.
Keriangan hatiku tak terperi.
Semua tak lagi menjadi mimpi.
Membaca adalah kesukaanku setiap hari.
Buku-buku perpustakaan yang lama kurindu menjadi teman bermain.

Di suatu siang, sepulang sekolah.
Badanku kuyup karena hujan.
Sepupu yang sudah kelas dua SMA itu segera memberiku baju ganti.
Lalu mengajakku ke kamarnya.
Di sana ada tivi dan kasur yang sangat empuk.

“Istirahatlah di sini. Gunakan selimut itu,” katanya.

Tanpa menolak aku segera berbaring dan berselimut. Aku tak ingin sakit. Karena aku suka sekolah.
Walau sedikit terlambat.
Ya, aku baru sekolah di usia sembilan tahun.
Untung saja sekolah itu berada di kampung.
Tak ada aturan khusus yang mengikat. Usiaku pun dimudakan.
Tak ada salahnya, kan?
Karena semangatku untuk sekolah begitu besar.

Mataku terasa berat. Aku mengantuk.
Sayup-sayup kudengar suara tivi menyala.
Mataku kembali terbuka.
Sepupuku sedang asyik menonton.
Tapi, bukan kartun.
Apa itu aku tak tahu.
Tapi, sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu yang membuat nyaman.

Aku pun bertanya, “Kak, itu sedang apa di tivi?” tunjukku pada benda segi empat itu.
Sepupuku menoleh dan tersenyum.

“Mereka sedang bersenang-senang. Kamu pernah mendengar surga?” Aku mengangguk. “Seperti itulah kenikmatan surga. Sangat nikmat.”

“Wah, surga itu seperti rumah dan kamar, ya,” kataku polos.

Sepupuku tersenyum. “Betul sekali. Kamu mau merasakan surga?”

Aku terkejut.
Aku pernah mendengar surga itu untuk mereka yang sudah mati.
Aku ketakutan.
Aku tak mau mati dan aku pun menggeleng.

“Kenapa?”

“Karena surga itu untuk orang mati.”

Sepupuku terbahak.
Rangkaian kata ia lontarkan.
Aku kembali mengangguk.

Tangannya mulai memegang bahuku.
Melepas baju dan masuk ke dalam selimutku.
Aku diam.
Bukankah itu surga seperti yang di tivi.
Sebentar lagi aku merasakan surga.

Tapi…
“Aduh sakit!”
Ada yang sakit di selangkanganku.
Sebuah benda menekan paksa di sana.
Sepupuku bilang agar aku diam saja.
Untuk ke surga awalnya memang sakit.

Kurasakan berkali sakit memeri di antara kedua kaki.
Aku tetap diam.
Menggigit bibir.
Kulihat sepupuku wajahnya tersenyum.
Ia berbisik di telingaku pelan, katanya surganya sangat nikmat.
Aku bingung.

Surga itu tak kunjung datang.
Hingga tiba-tiba sepupuku mengerang.
Dan terkulai puas.
Aku masih berada dalam kebingungan.

“Kak, sakit,” kataku meringis. “Tapi, di mana surganya?”

Sepupuku menoleh dan tersenyum.
“Kamu belum sampai ke surga. Kamu baru berjalan sedikit mendekatinya.”

“Oh, terus kapan aku sampai ke surga? Aku juga ingin tersenyum seperti Kakak.”

Sepupuku berbisik, bahwa besok dan setiap hari ia akan mengajakku berjalan menuju surga. Aku tersenyum.
Sepupuku teramat baik. Sangat sabar mengajakku menuju surga.

Entah sudah berapa lama aku dan sepupuku berjalan ke surga.
Tapi, surga itu teramat jauh.
Aku masih belum merasakan nikmat surga.
Bahkan ketika sepupuku mengajak dua temannya yang juga ingin ke surga.
Aku semakin kesakitan.
Bahkan berjalan terasa agak sulit.
Aku menangis.

“Mengapa surga begitu sulit kudapat?” tanyaku suatu hari.

Sepupuku bilang, “mungkin kamu terlalu banyak dosa. Tapi, tenang saja. Lama-lama surga itu semakin dekat,” hiburnya.

Setahun sudah.
Usiaku sepuluh tahun.
Siang itu, sepupuku kembali mengajakku berjalan mencari surga.
Ditemani tivi yang memerlihatkan cara untuk bisa ke surga.
Hari itu, aku mulai tersenyum.
Betul kata sepupuku.
Sakit itu mulai berkurang.
Aku merasa nyaman, surga itu mulai terasa.
Benar-benar nikmat.
Sangat nikmat.

Di saat puncak kenikmatan surga itu hampir kugapai, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Ada ayah di sana.
Aku tersenyum, pasti ayah senang melihat aku sudah bisa merasakan surga.

Tapi…
Wajah ayah tampak tak bahagia.
Merah padam menghiasi kulit legamnya.
Tangan kekar itu menarik paksa sepupuku.
Ah, ayah aku belum sampai ke puncak surga, protesku dalam hati.

Ayah memukul sepupuku tanpa ampun.
Aku takut dan bersembunyi di balik selimut.
Kenapa ayah marah?
Bukankah sepupuku sudah sangat baik kepadaku?
Aku tak mengerti.

Beberapa warga desa ramai berdatangan.
Mereka menggiring sepupuku ke balai desa.
Dan aku?
Ayah memeluk erat.
Memakaikan pakaianku kembali.
Wajahnya begitu sedih.
Tak pernah kulihat ia begini.

“Ayah kenapa sedih?” tanyaku.
Ayah hanya memandangku iba.
Ia mengajakku pulang ke rumah.
Sepanjang jalan semua mata menatapku iba.
Aku benar-benar tak mengerti kenapa.

Ibu guru di sekolahku datang ke rumah.
Menemani aku yang masih bingung di dalam kamar.
Ia pun menjelaskan semua.
Aku terkejut.
Siapa yang berkata jujur?
Sepupuku atau ibu guru?
Tapi, ibu guru bilang bohong itu dosa.
Akhirnya aku percaya padanya.

Jadi, surga itu bohong belaka.
Kata Bu Guru aku itu perempuan.
Perempuan ibarat kaca.
Dan aku adalah kaca yang sudah pecah.
Aku menangis.
Semua mendadak gelap.
Tenyata surga itu tak ada.
Kecuali aku sudah mati.
Ya, mati.
Aku ingin mati.
Aku ingin surga.

Bu Guru memegang erat tanganku.
Pisau dapur itu terlempar.
Aku pernah melihat tetanggaku memotong ayam.
Lehernya putus maka ayam pun mati.
Pasti begitu caranya.
Tapi, kenapa Bu Guru melarangku.
Ia berteriak dan menangis.
Ayah mengikat tangan dan kakiku.
Wajahnya teramat murung.

Ah, hidupku kini sangat suram.
Aku menjadi buta.
Tak ada lagi harapan.
Tak ada lagi masa depan.
Tak ada lagi surga.

Lalu aku mesti apa?
Apakah Tuhan memberi harapan baru pada seseorang?
Apakah masih ada jalan yang bisa kulalui?
Ataukah kuharus terperangkap di sini.
Meraba dalam gelap.
Mengasa setitik terang mimpi.

Longkali, 6 Agustus 2019

Repost from facebook Walidah Ariyani

nubarnulisbareng/walidahariyani