Puasa Hari Pertama

Puasa Hari Pertama

Riak air bergolak
Di dalam teko ia berdesakan
Tersengat panasnya api yang merambat
Terdengar suara peluit memanggil
Seakan suara nyaring
Dari tenggorokan yang kering

Denting wajan disenggol sudip
Mengudara aroma lezat
Berkelana ke segala penjuru
Mencari jalan untuk lalu

Aku menghidu
sebuah kehidupan

Lantunan ayat suci
Bersahut ria dari satu masjid bersama masjid lain
Suara tawa riang anak tetangga
Bergurau dan bercakap dengan kakaknya
Terdengar jelas meski terhalang tembok pembatas

Pukul tiga
Seakan tiada beda

Seperti tahun-tahun sebelumnya

Sahur pertama
Sama

Selepas imsak
Usai sirine memekik
Muazin mengumandangkan azan
Perbedaan mulai terasa
Renjana membuncah dalam kerinduan

Tiada lagi para lelaki yang berlomba
Bertaburan di jalan menuju rumah Allah

Biasanya,
Saat bagaskara mulai berseluncur turun
Sebelum ia membungkus dirinya
dalam selimut berwarna tembaga
Riuh pasar takjil menggoda

Biasanya,
Usai tanda berbuka
Tempat-tempat makan dipenuhi pengunjung
Tumpah ruah di restoran
Bersama teman atau relasi orang-orang kantoran

Ada juga yang ramai di jalanan
Membagi makanan juga sedekah
Atau ada yang malah sibuk melepas rindu di pojok jembatan

Kali ini berbeda
Ya, berbeda
Sangat berbeda

Seakan semua berpulang pada fitrahnya
Suami kembali mengimami anak dan istri
Masakan istri kembali merajai hati

Inilah keluasan waktu
Memperbanyak ibadah
Merayakan kebersamaan keluarga yang telah lama dilupa
Karena dalih urusan perut dan dunia

Yang Maha Kuasa menyematkan rindu
Karena kita sering tak menghiraukan diri-Nya
Melupakan rumah-Nya
Berat langkah ke sana

Sebuah teguran cinta
Dari pencipta pada hamba

Ramadan kali ini berbeda
Idul Fitrinya juga tak sama

Inilah suatu masa penuh cinta
Seolah terkekang dan sepi
Seakan bencana dan kutukan
Nyatanya kesempatan untuk muhasabah diri
Rupanya kasih sayang dari Tuhan

Sumber gambar: pixabay

Nulisbareng/Asri Susila Ningrum